Penyakit

Scapular Disorder: Bahu Miring yang Disertai Sakit Tulang Belikat

Skapula atau tulang belikat dikelilingi oleh jaringan otot yang membantu menggerakkan lengan. Cedera pada area tersebut akan menyebabkan otot-otot menjadi lemah atau tidak seimbang. Kondisi tersebut meningkatkan risiko perubahan posisi skapula yang disebut dengan scapluar disorder (gangguan skapular) atau scapular dyskinesis (diskinesis skapular).

Dyskinesia skapula membuat lengan sulit digerakkan atau kaku, sakit tulang belikat, dan bahu terlihat turun. Artikel berikut akan membahas seputar gejala, penyebab, serta pengobatan gangguan skapular.

Penyebab 

Cedera yang terjadi pada tulang penopang skapula, sendi bahu, atau saraf dapat mengakibatkan gangguan skapular sehingga memicu sakit tulang belikat.

Selain karena cedera, otot-otot bisa melemah jika tidak terlalu sering digunakan. Namun melakukan gerakan berulang dalam waktu lama, seperti melempar pada atlet baseball, juga meningkatkan risiko terkena diskinesis skapula akibat ketidakseimbangan otot. 

Tanda dan gejala

Awalnya Anda mungkin tidak menyadari perubahan pada bahu akibat diskinesis skapula. Seiring berjalannya waktu, gejala akan semakin terasa, antara lain:

  • Nyeri atau sakit tulang belikat, terutama di bagian atas dan batas medial (bagian dalam). Ini dirasakan terutama saat mengangkat lengan atau membawa benda berat
  • Rentang gerak kaku dan terbatas. Anda mungkin tidak bisa mengangkat lengan ke atas
  • Saat menggerakkan bahu, cenderung disertai bunyi berderak
  • Postur tubuh yang terkulai sehingga bahu terlihat seperti turun, atau miring ke depan di sisi yang terdampak
  • Terlihat tulang belikat lebih menonjol pada sisi yang terpengaruh

Bagaimana mengobati diskinesis belikat?

Dalam beberapa kasus, gejala gangguan skapular dapat membaik hanya dengan melakukan perawatan sederhana yang meliputi:

  1. Memperbaiki postur tubuh

Gangguan pada tulang belikat dipicu dari postur tubuh saat kita melakukan aktivitas sehari-hari, baik itu duduk, berdiri, berjalan, atau mengangkat benda berat. 

Untuk memperbaikinya, pastikan tubuh dalam posisi tegak (tulang belakang lurus), tarik bahu Anda ke belakang, kemudian tekuk siku ke bawah dan belakang seolah-olah mencoba memasukkan tangan ke dalam saku belakang. 

  1. Olahraga secara rutin

Saat memulai program olahraga teratur, pastikan sesi latihan kekuatan tubuh bagian atas seimbang. Program latihan Anda juga harus mencakup latihan peregangan untuk otot bahu dengan dan rotasi sendi bahu. 

  1. Terapi panas

Mengompres atau berendam dengan air hangat dapat membantu meringankan otot bahu yang tegang. Ini juga akan meredakan nyeri dan melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh Anda. 

  1. Terapi fisik

Terapi fisik merupakan salah satu perawatan non-bedah untuk scupular disorder. Dokter atau ahli terapi fisik akan memberikan program latihan sesuai dengan penyebab sakit tulang belikat Anda. 

Terapi fisik biasanya berfokus pada dua hal, yaitu:

  • Memperkuat otot yang menstabilkan dan menggerakkan skapula, dan
  • Meregangkan otot yang kencang dan yang membatasi gerakan tulang belikat
  1. Minum obat antiinflamasi

Selain terapi fisik, dokter juga akan meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen dan naproxen untuk meredakan nyeri dan bengkak akibat disfungsi skapula. 

Perawatan di atas hanya efektif  untuk pasien yang mengalami diskinesis akibat kelemahan atau kekakuan otot. Namun jika gangguan disebabkan oleh cedera pada sendi bahu, maka dokter akan menyarankan prosedur pembedahan. 

Nantinya dokter akan memperbaiki atau merekonstruksi yang cedera, diikuti dengan rehabilitasi untuk mengembalikan gerakan normal skapula.

Catatan

Untuk menghindari sakit tulang belikat dan meringankan kondisinya, sebisa mungkin membatasi aktivitas yang memerlukan gerakan mengangkat lengan terlalu tinggi, seperti bermain bulu tangkis atau melempar benda. 

Diskinesis skapula umumnya membutuhkan waktu 4 – 8 minggu untuk pulih, namun jika keparahan meningkat maka proses penyembuhan bisa lebih lama.

Penyakit

Ini Gejala dan Penyebab Nyeri di Belakang Mata

Beberapa orang pasti pernah mengalami nyeri di belakang mata. Gejalanya biasanya mirip seperti sakit kepala di bagian dalam. 

Selain itu, nyeri di belakang mata biasanya juga menimbulkan rasa pegal yang membuat aktivitas terganggu. Gejala lain yang muncul biasanya juga diikuti dengan ketegangan di area belakang mata. 

Nyeri di belakang mata juga bukan hal yang serius, dokter nantinya akan mencari sumber nyeri sehingga proses pengobatan jadi lebih tepat.

Gejala nyeri di belakang mata

Gejala nyeri di belakang mata biasanya ditandai dengan rasa sakit seperti terkena benda tumpul. Bahkan, beberapa orang merasa jika bagian belakang mata seperti ditusuk sesuatu. 

Berikut ini beberapa gejala nyeri di belakang mata yang wajib kamu ketahui.

  • Perasaan nyeri di belakang mata
  • Mata memerah, gatal, dan seperti terbakar
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Demam
  • Nyeri saat menggerakan mata
  • Tekanan sinus
  • Mata berair
  • Penglihatan kabur
  • Sakit bahu atau punggung

Penyebab nyeri di belakang mata

Berikut ini beberapa penyebab utama nyeri di belakang mata yang wajib kamu ketahui:

  1. Sakit kepala tensi
    Sakit kepala tensi ditandai dengan perasaan seperti sesak dan ada tekanan di sekitar dahi. Hal ini juga menyebabkan rasa nyeri di belakang mata. Selain itu, hal ini juga ditandai dengan gejala lain seperti nyeri di kulit kepala dan juga di area leher serta dahi.
  2. Sakit kepala cluster
    Sakit kepala ini ditandai dengan sakit kepala yang cukup pendek namun menyakitkan. Biasanya sakit kepala ini berlangsung selama 15 menit hingga 1 jam.
    Sakit kepala cluster juga digambarkan dengan rasa nyeri seperti terbakar dan menusuk di belakang mata. Gejala lain dari sakit kepala cluster yang membuat nyeri di belakang mata yakni mata menjadi merah, bengkak, dan terdapat robekan.
  3. Migrain
    Migrain juga bisa menyebabkan tekanan di belakang mata yang menimbulkan rasa sakit hingga berjam-jam.
    Selain itu, saat migrain, kamu juga mungkin mengalami beberapa gejala seperti sensitif terhadap cahaya, mual, muntah, hingga gangguan penglihatan.
  4. Mata tegang
    Mata tegang biasanya karena kelelahan menatap layar komputer terlalu lama atau televisi. Hal ini bisa menyebabkan gangguan penglihatan pada otak dan juga mata serta menyebabkan sakit kepala.
  5. Sinusitis
    Infeksi sinus juga bisa menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan rasa nyeri di belakang mata karena hidung yang tersumbat.
    Tersumbatnya area hidung bisa membuat tekanan di daerah dahi, pipi, dan juga belakang mata.

Berikut ini juga beberapa penyebab umum yang menimbulkan nyeri di belakang mata, yakni:

  • Skleritis atau peradangan
  • Neuritis optik
  • Radang saraf optik
  • Penyakit graves
  • Kelainan autoimun
  • Glaukoma
  • Penyakit mata yang memengaruhi saraf optik
  • Penggunaan alkohol
  • Terpapar bau parfum yang menyengat
  • Suara yang terllau keras
  • Kelelahan
  • Perubahan hormonal
  • Kurang tidur
  • Stres

Bagaimana mengatasi nyeri di belakang mata?

Untuk mengatasi nyeri, biasanya dokter akan memberikan resep pelemas otot, khusus untuk kamu yang memiliki gejala sakit kepala. Obat ini berfungsi untuk melemaskan otot agar tidak tegang.

Selain itu, dokter juga akan meresepkan antidepresan untuk menstabilkan kadar serotonin di otak. 

Kamu juga bisa melakukan perawatan mandiri untuk mengurangi rasa nyeri di belakang mata dengan melakukan beberapa hal berikut ini: 

  • Berolahraga setiap hari
  • Mengurangi asupan makanan olahan
  • Membatasi penggunaan alkohol
  • Mengurangi merokok
  • Mengurangi konsumsi kafein

Jika setelah melakukan perawatan mandiri kondisi masih memburuk, sebaiknya segera menemui dokter dan melakukan pemeriksaan yang lebih detail lagi. 

Penyakit

Bukan Nama Makanan, Ini Pengertian Penyakit Blue Waffle

Beberapa tahun lalu, istilah blue waffle sempat cukup ramai diperbincangkan. Meski mirip dengan nama makanan, istilah ini sebenarnya digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi penyakit menular seksual.

Akan tetapi, meskipun banyak orang mengira kondisi ini adalah salah satu penyakit menular seksual, blue waffle sebenarnya hanyalah penyakit fiktif. Kata “waffle” digunakan untuk melambangkan vagina, sedangkan “blue” mewakili salah satu gejala khayalannya.

Blue waffle merupaka penyakit menular seksual fiktif yang sempat populer

Apa itu blue waffle?

Berita mengenai blue waffle sudah mulai beredar sejak tahun 2010. Orang-orang mengatakan kondisi ini merupakan penyakit menular seksual yang ditandai dengan perubahan warna vagina menjadi biru.

Akan tetapi, hal itu sebenarnya hanya merupakan rupor belaka. Tidak ada bukti ilmiah yang bisa membenarkan hal ini.

Menurut hoaks yang beredar, gejala dari kondisi ini berupa perubahan warna vulva menjadi biru, serta dipenuhi dengan koreng atau lesi. Orang-orang bahkan sampai mengedarkan foto gejala tersebut di media sosial.

Namun, meskipun penyakit menular seksual sangat berbahaya, tidak ada di antaranya yang bisa menyebabkan vagina berubah warna menjadi biru. Foto yang beredar tentunya telah diedit oleh orang-orang yang menyebarkan berita bohong ini.

Jadi, ketika mendengar berita mengenai penyakit wafel biru ini, Anda tidak perlu mempercayainya. 

Gejala yang serupa dengan blue waffle

Pada dasarnya, hubungan seksual yang tidak dilakukan secara aman dan sehat memang berpotensi menyebabkan penyakit menular seksual. Sebagian besar kondisi ini cukup fatal, tidak bisa diobati dan bisa mengancam nyawa.

Vagina secara alami akan memproduksi pelumas. Terlalu banyak berhubungan seksual bisa menyebabkan vagina Anda menjadi kering karena memproduksi pelumas terus-menerus dengan terlalu berlebihan.

Selain itu, hubungan seksual yang kasar juga bisa menyebabkan pembengkakkan pada vagina, bahkan sampai merobek jaringan vagina Anda. Hal ini tentu berbahaya. 

Ketika terjadi robekan di jaringan vagina, Anda lebih rentang mengalami infeksi. Infeksi ini ditandai dengan gejala berupa: 

  • Vagina dan area di sekitarnya terasa gatal, perih, dan bengkak
  • Nyeri ketika berhubungan seksual
  • Keputihan yang tampak tidak biasa dan berbau
  • Sensasi terbakar ketika buang air kecil

Gejala-gejala di atas memang serupa dengan tanda-tanda yang dikatakan merupakan gejala dari blue waffle. Akan tetapi, kondisi ini disebabkan oleh infeksi dan tidak menyebabkan perubahan warna vagina menjadi biru. 

Penyakit menular seksual yang benar-benar terjadi

Anda sudah memahami sekarang bahwa ungkapan penyakit wafel biru hanyalah rekayasa dan merupakan berita bohong. Penyakit ini bukanlah penyakit menular seksual.

Penyakit menular seksual yang sebenarnya bisa menimbulkan gejala yang serupa dengan wafel biru. Gejala itu antara lain: 

  • Keluarnya cairan yang tidak biasa dari vagina
  • Vulva memerah dan membengkak
  • Gatal atau iritasi di sekitar vagina

Jika Anda merasakan gejala di atas, Anda mungkin menderita vaginitis, salah satu penyakit menular seksual yang bisa dialami oleh wanita. Vaginitis bisa terjadi karena infeksi.

Sebagian infeksi pada vagina ditularkan melalui hubungan seksual. Namun, ada juga infeksi yang terjadi karena efek alergi terhadap kandungan tertentu. 

Selain vaginitis, beberapa jenis penyakit menular seksual lainnya yang perlu diwaspadai adalah klamidia, gonore, dan trikomoniasis. Sebaiknya, selalu waspada dan berhati-hati saat melakukan hubungan seksual. Ketahui cara yang aman dan sehat agar tidak terkena infeksi. Jika Anda mengalami infeksi, Anda mungkin akan merasakan gejala yang serupa dengan blue waffle.

Penyakit

Bedah Invasif Minimal untuk Atasi Pembesaran Prostat Jinak

Bedah Invasif Minimal untuk Atasi Pembesaran Prostat Jinak

Seiring bertambahnya usia, kemungkinan seseorang untuk mengalami masalah kesehatan semakin besar. Malah, ada beberapa penyakit yang memang timbul pada usia-usia senja. Bagi pria, prostat adalah salah satu bagian tubuh yang masuk ke dalam kriteria itu. Dari beberapa masalah kesehatan yang menyerang prostat, di antaranya adalah pembesaran prostat jinak.

Belum diketahui pasti mengapa kondisi prostat akan memburuk seiring bertambahnya usia. Namun, dugaan yang banyak diyakini adalah lantaran perubahan keseimbangan hormon seks pria. Prostat sendiri merupakan sebuah kelenjar yang termasuk organ reproduksi pria. Ia terletak di rongga pinggul tepat di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, dengan fungsi utamanya adalah mengeluarkan cairan prostat, yang merupakan salah satu komponen semen.

Pada pria berusia 21-30 tahun, berat dari kelenjar prostat sekitar 6 sampai 20 gram. Berat akan tetap konstan seiring dengan bertambahnya usia kecuali jika terjadi pembesaran prostat jinak. Istilah medis untuk pembesaran prostat jinak adalah Benign Prostatic Hyperplasia atau disingkat BPH.

Pembesaran prostat jinak dapat dipahami sebagai kondisi di mana terjadi pembesaran prostat non-kanker yang dapat memengaruhi proses berkemih. Kondisi ini biasa terjadi pada pria berumur 50 tahun ke atas. Biasanya, kondisi ini dapat dikenali (dan disadari) ketika timbul beberapa perubahan yang berkaitan dengan buang air kecil, seperti:

  • Pancaran aliran urine yang lemah pada saat buang air kecil;
  • Perlu mengejan saat buang air kecil;
  • Tidak dapat mengosongkan kandung kemih sepenuhnya;
  • Buang air kecil lebih dari dua kali di malam hari (nokturia);
  • Dorongan secara tiba-tiba untuk buang air kecil;
  • Terdapat darah dalam urine;
  • Inkontinensia urine atau tidak bisa menahan atau mengontrol buang air kecil, seperti mengompol;
  • Terasa sakit saat buang air kecil.

Tanda atau gejala umum dari pembesaran prostat jinak di atas mungkin berbeda antara satu orang dengan yang lain. Seseorang harus memeriksakan diri ke dokter agar mendapat diagnosis yang akurat mengenai kondisinya. Dengan diagnosis yang tepat dan akurat, dokter bisa memetakan masalah yang dialami dan melakukan pertolongan yang sesuai dengan masalah tersebut.

Ada beberapa prosedur medis yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi kelenjar prostat pasien, mulai dari serangkaian tes dengan berbagai macam sampel, sampai pemeriksaan-pemeriksaan dengan bantuan alat lain. Nantinya, dari serangkaian pemeriksaan itu dapat diketahui sejauh mana masalah yang terjadi.

Dokter umumnya langsung mengambil tindakan bedah invasif minimal jika kondisi pasien sesuai dengan kriteria. Indikatornya antara lain:

  • Tingkat keparahan gejala yang dialami pasien pada derajat sedang sampai parah;
  • Terapi obat tidak menghilangkan gejala yang dialami pasien;
  • Pasien mengalami penyumbatan saluran kemih, batu kandung kemih, darah dalam urin atau masalah ginjal.

Bedah invasif minimal untuk mengatasi pembesaran prostat jinak dikenal dengan istilah Transurethral Resection of the Prostate atau TURP. Tindakan medis ini dilakukan untuk membuang bagian dalam dari kelenjar prostat, demi mengurangi gejala yang disebabkan oleh pembesaran prostat.

Prosedur ini dilakukan dengan bantuan alat yang disebut resectoscope. Alat ini dilengkapi oleh sumber penerangan dan kamera yang membantu dokter menjangkau bagian prostat. Jika dibayangkan, prosedur ini cukup membuat tubuh bergidik. Sebab dokter akan menjangkau prostat dengan cara memasukkan resectoscope melalui penis dan saluran uretra. 

Kira-kira, berikut langkah-langkah atau tahapan prosedur TURP untuk mengatasi pembesaran prostat jinak:

  • Pasien akan diberikan anestesi umum  supaya tertidur, atau anestesi spinal dimana pasien tetap sadar tetapi tidak akan merasakan sakit;
  • Dokter  akan memasukkan resectoscope melalui penis dan ke dalam uretra. Nantinya, loop listrik yang ada di alat ini akan memotong jaringan prostat  yang menekan uretra;
  • Tindakan TURP umumnya memakan waktu 60-90 menit. 

TURP ini terbilang prosedur yang efektif mengatasi masalah pembengkakan prostat jinak. Tindakan operasi TURP dapat meredakan gejala dengan cepat. Kebanyakan pasien akan mengalami aliran urin yang lebih kuat dan lancar secara signifikan dalam beberapa hari setelah tindakan dilakukan.

Penyakit

Teknik Penyembuh Luka Operasi Diabetes untuk Pemulihan Cepat

Teknik Penyembuh Luka Operasi Diabetes untuk Pemulihan Cepat

Setelah menjalani operasi diabetes, tubuh Anda memerlukan waktu untuk bisa pulih sepenuhnya. Luka akibat operasi juga perlu dirawat dengan tepat agar tidak infeksi. Anda mungkin perlu mengetahui teknik penyembuh luka operasi diabetes agar pemulihan lebih maksimal.

Ada banyak hal yang perlu Anda perhatikan setelah menjalani operasi diabetes. Anda harus berhati-hati agar luka Anda bisa pulih dengan sempurna, serta tidak terjadi komplikasi pasca operasi yang tidak diinginkan.

Memahami tahap penyembuhan luka setelah operasi

Proses penyembuhan luka setelah menjalani operasi terdiri atas beberapa tahap. Ada tiga fase yang dilalui oleh luka Anda setelah operasi:

  • Fase 1: Pembengkakan

Luka bekas operasi pasti akan membengkak setelah operasi selesai dilakukan. Pembengkakan ini bisa terjadi karena pembuluh darah Anda menggumpal untuk mencegah Anda kehilangan banyak darah.

Kemudian, sel darah putih akan bergerak ke area luka. Sel darah putih ini bekerja melawan bakteri agar luka Anda tidak mengalami infeksi.

Biasanya, pembengkakan pada area luka setelah operasi bisa terjadi sampai 6 hari. Anda mungkin akan merasakan sensasi hangat, nyeri dan kemerahan pada area sekitar luka tersebut.

  • Fase 2: Perbaikan

Fase ini berlangsung sekitar 4 hari sampai dengan satu bulan setelah menjalani operasi. Di fase ini, tubuh Anda melakukan perbaikan terhadap luka bekas operasi.

Akan muncul bekas luka yang mengeras pada area luka Anda. Tepi-tepi pada bekas luka tersebut akan menyatu dan saling menarik, membuat kulit Anda menjadi terlihat lebih tebal.

Bekas luka ini juga bisa memicu warna kemerahan baru dan sedikit benjolan. Anda akan merasakan sensasi nyeri yang menusuk di sana. Hal ini wajar, bahkan baik, karena rasa nyeri menandakan saraf pada bagian luka tersebut mulai kembali berfungsi.

Seiring berjalannya waktu, rasa nyeri yang menusuk ini akan berangsur-angsur berkurang. 

  • Fase 3: Pembangunan kembali

Area pada luka Anda akan melakukan tahap pembangunan kembali, yaitu pembentukan permukaan baru. Dibanding dengan fase 1 dan 2, fase ini bisa berlangsung cukup lama, sekitar 6 bulan sampai dengan 2 tahun setelah operasi.

Bekas luka Anda akan tampak berubah seiring berjalannya waktu. Kulit pada bekas luka menjadi lebih tebal, merah, dan permukaan kasar pada bekas luka akan terangkat.

Kulit yang muncul dari bekas luka yang terangkat akan tampak lebih tipis dan datar, serta berwarna sama dengan warna kulit Anda.

Teknik penyembuh luka operasi diabetes

Agar proses pemulihan berlangsung baik, berikut ini teknik penyembuh luka operasi diabetes yang perlu Anda pahami:

  • Jaga luka tetap bersih

Bersihkan area kulit di sekitar luka dengan kain kasa. Rendam kain kasa dalam air sabun, lalu campurkan air steril atau garam. Usapkan pada kain di sekitar luka. Jangan gunakan sabun pembersih kulit ataupun produk perawatan kulit lainnya. 

  • Jaga luka tetap kering

Selama 24 jam setelah operasi, luka Anda tidak boleh terkena basah. Jadi, Anda tidak boleh mandi selama jangka waktu tersebut. Mandilah pada hari kedua setelah operasi agar luka tetap kering.

  • Jangan terpapar sinar matahari

Paparan sinar matahari berlebih bisa membuat bekas luka menggelap dan semakin sulit untuk hilang. Selama 6 bulan setelah operasi, hindari luka dari sinar matahari. Kalau Anda terpaksa beraktivitas di luar, pastikan untuk menggunakan tabir surya.

Itulah teknik penyembuh luka operasi diabetes yang bisa Anda lakukan. Perhatikan kondisi luka Anda secara rutin dan hindari dari infeksi. 

Penyakit

Kanker Sarkoma Ewing, Bagaimana Cara Mengobatinya?

Kanker Sarkoma Ewing, Bagaimana Cara Mengobatinya?

Kanker seringkali dianggap sebagai penyakit mematikan yang berbahaya. Pada dasarnya, ada banyak sekali jenis-jenis kanker yang bisa mengancam jiwa Anda. Salah satunya adalah kanker sarkoma ewing.

Kanker sarkoma ewing adalah kanker yang menyerang tulang atau jaringan lunak di sekitar tulang. Kondisi ini cukup langka, dan tidak banyak dialami oleh penderita kanker di seluruh dunia. 

Umumnya, kanker jenis ini lebih rentan terjadi pada anak-anak dan remaja. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasapun bisa mengalaminya juga. 

Diagnosa dokter terhadap gejala kanker sarkoma ewing

Sebelum melakukan diagnosa, dokter perlu terlebih dahulu merasa yakin bahwa gejala yang Anda alami adalah gejala kanker sarkoma ewing. Oleh sebab itu, untuk mendukung hasil diagnosa, dokter akan meminta Anda untuk menjalani serangkaian pemeriksaan lain berupa:

  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik merupakan bagian dari pemeriksaan gejala yang paling umum. Jenis pemeriksaan ini dilakukan dengan menganalisis gejala atau tanda fisik yang kasat mata. 

Misalnya benjolan atau area kemerahan yang muncul di sekitar area yang terserang kanker. 

  • MRI

MRI adalah salah satu jenis tes pencitraan yang cukup umum dilakukan. Tes ini bisa memberikan gambaran mendetail terhadap tumor atau kelainan lainnya yang terjadi pada jaringan tisu, organ, maupun otot Anda. 

  • Biopsi

Pemeriksaan biopsi bisa dilakukan baik melalui operasi ataupun tidak. Dokter akan menggunakan jarum untuk mengambil sejumlah jaringan tisu Anda untuk dijadikan sampel.

Kemudian, sampel tersebut akan melalui pengujian di laboratorium. Hasilnya bisa membantu dokter menentukan apakah jenis kanker yang Anda alami memang sarkoma ewing. 

  • Tes darah

Sebenarnya, tes darah tidak bisa memberikan gambaran secara pasti apakah Anda menderita jenis kanker ini. Akan tetapi, tes darah bisa membantu untuk menghitung kadar sel darah merah dan sel darah putih Anda. 

  • Pemindaian tulang

Pemeriksaan yang satu ini dilakukan guna mengetahui apakah sel kanker ada di tulang Anda. Dokter atau tenaga medis akan menyuntikkan pewarna radioaktif ke pembuluh darah Anda. 

Nantinya, pewarna tersebut akan terkumpul ke area tulang yang memiliki tumor. Ketika dipindai dengan mesin, hal ini akan terdeteksi oleh dokter. 

Pengobatan untuk kanker sarkoma ewing

Berdasarkan hasil diagnosa, jenis pengobatan bagi setiap pasien mungkin berbeda-beda. Berikut ini beberapa jenis pengobatannya:

  • Kemoterapi

Kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat umum untuk merawat pasien kanker, termasuk kanker jenis ini. Biasanya, kemoterapi menjadi tahap pertama pengobatan. 

Obat yang digunakan pada kemoterapi akan fokus menyerang sel kanker, sehingga sel kanker mati dan tidak bisa berkembang semakin meluas lagi.

  • Terapi radiasi

Terapi ini tampak serupa dengan kemoterapi. Jenis terapi ini dilakukan menggunakan paparan sinar X untuk membunuh sel kanker.

Sinar X akan dipancarkan ke area tubuh yang mengalami kanker menggunakan mesin khusus. Terapi ini bisa saja dikombinasikan dengan kemoterapi dan operasi.

  • Operasi

Operasi menjadi satu-satunya pengobatan yang bisa menyembuhkan Anda dari kanker sepenuhnya. Pengobatan dengan operasi dilakukan apabila sel kanker belum menyebar terlalu luas. 

Pada operasi, dokter akan mengangkat tumor atau sel kanker dari tubuh Anda. Dalam beberapa kasus, apabila sel kanker sudah menyebar ke sebagian besar tulang, Anda mungkin harus diamputasi. 

Itulah beberapa jenis pengobatan bagi penderita kanker sarkoma ewing. Masih ada beberapa jenis pengobatan lainnya yang dilakukan berdasarkan hasil diagnosa dokter terhadap kondisi Anda.

Penyakit

Dosis yang Dianjurkan Agar Tidak Merasakan Efek Samping Lamivudin

Lamivudine merupakan obat yang digunakan dalam kombinasi dengan obat-obatan lain guna pengobatan infeksi yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV). Meski demikian lamivudine bukanlah obat yang mampu menyembuhkan atau mencegah penyakit HIV atau AIDS, selain itu selayaknya obat pada umumnya terdapat efek samping lamivudin yang perlu diketahui.

Obat ini mampu mencegah replikasi HIV dan memperlambat kerusakan sistem kekebalan tubuh, lamivudine juga digunakan untuk mengobati infeksi virus hepatitis B kronis. Lamivudine merupakan obat resep, pengguna obat ini harus mengikuti seluruh petunjuk dokter selama mengonsumsi obat ini dan sangat tidak dianjurkan meminumnya dengan asal.

Efek Samping Lamivudine

Dalam setiap pemakaian obat sudah pasti memiliki efek samping tertentu yang muncul dan dialami pasien yang mengonsumsi obat tersebut. Namun, efek samping ini belum tentu terjadi pada setiap pemakaian obat dan apabila tejadi efek berlebih harus segera mendapat penanganan medis, berikut beberapa efek samping setelah mengonsumsi lamivudine.

  • Nyeri perut, mual, muntah dan diare.
  • Sakit kepala disertai dengan demam.
  • Munculnya ruam, alopecia, malaise, insomnia.
  • Arthalgia, nyeri muskoloskeletal, pankreatitis.
  • Anemia, neutropenia, trombositpenia, sindrom rekonstitusi imunitas.
  • Lipodistrofi, kelaianan metabolik (hipertrigliserdermia, hiperkolesterolemia, resistensi insulin, hiperlactatemia) dan osteonecrosis.

Jika mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas setelah mengonsumsi obat ini segera beritahukan kepada dokter agar segera mendapat penanganan. Jangan dianggap sepele karena efek samping yang muncul bisa berpotensi fatal seperti asidosis laktat, hepatomegali disertai steatosis. Jika tidak segera menghilang dengan sendirinya, segera konsultasi ke dokter.

Dosis Lamivudine

Dosis untuk mengatasi infeksi HIV dikombinasikan dengan obat antivirus lainnya, untuk orang dewasa dosis yang diberikan sebanyak 150 mg, dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari. Sementara itu untuk anak usia lebih dari tiga bulan maka digunakan dosis 75-150 mg, diberikan dua kali sehari dan dosis maksimum 300 mg per hari.

Dosis hepatitis B kronis untuk dewasa sebanyak 100 mg diberikan sekali dalam sehari, khusus untuk penderita hepatisis B dan HIV diberikan 150 mg sebanyak dua kali sehari atau 300 mg sekali dalam sehari. Sementara untuk anak usia  dua sampai 17 tahun diberikan 3 mg/kg berat badan, dosis maksimal 100 mg per hari.

Lamivudine merupakan obat resep, pengguna atau pasien harus mengikuti seluruh petunjuk dokter selama konsumsi obat ini. Obat ini bisa diminum sebelum atau sesudah makan, namun sebaiknya dikonsumsi secara rutin pada jam yang sama setiap harinya guna mendapatkan hasil maksimal dari kinerja obat.

Jika lupa minum obatnya, segera minum ketika ingat dan dilarang untuk menggandakan dosis obat ketika jadwal mengonsumsinya sudah dekat. Dan yang paling harus diingat adalah jangan sampai mengonsumsi tanpa sepengetahuan dokter, hal ini tak lepas dari efek samping lamivudine yang tak bisa disepelekan.

Selama mengonsumsi obat ini pasien juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan dengan rutin. Bagi pasien hepatisis B, akan menjalani tes fungsi hati secara rutin, baik selama mengonsumsi obat ini atau setelah selesai menjalani pengobatan. Untuk pasien HIV, akan diberikan jadwal menjalani tes kekebalan tubuh dan jumlah virus dalam tubuh secara rutin.

Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan tempat yang lembap. Jangan disimpan di kamar mandi dan jangan sampai dibekukan, meskipun merek lain dari obat ini sangat mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda.

Penyakit

Voltadex

voltadex obat nyeri punggung dan radang sendi

Voltadex merupakan jenis obat yang dapat mengatasi nyeri dan persendian seperti rheumatoid arthritis. Obat tersebut merupakan salah satu obat yang dikategorikan sebagai obat keras dimana obat tersebut harus digunakan melalui resep dokter.

Kandungan Voltadex

Voltadex mengandung natrium diklofenak. Natrium diklofenak merupakan obat antiinflamasi steroid (NSAID) yang kegunaannya dapat mengatasi nyeri ringan hingga sedang. Tidak hanya itu, obat tersebut juga dapat meredakan gejala-gejala yang timbul akibat rheumatoid arthritis seperti pembengkakan dan peradangan.

Kemasan Voltadex

Voltadex diproduksi oleh Dexa Medica. Voltadex dapat Anda beli baik di toko obat maupun secara online dengan harga sekitar Rp 7.000,00 per strip. Obat tersebut dijual dalam kemasan 5 strip yang dikemas dalam 10 tablet sebanyak 50 mg.

Informasi Zat Aktif Voltadex

Voltadex memiliki sifat analgesik, antiinflamasi, dan antipiretik. Obat tersebut dapat menghambat reversibel siklooksigenase-1 dan 2, serta sintesis prostaglandin.

Sesuai dengan proses kerja obat dalam tubuh, Voltadex memiliki status sebagai berikut:

  • Absorpsi

Obat Voltadex dapat diserap dari saluran pencernaan. Obat tersebut memiliki kadar obat yang masuk ke peredaran darah atau ketersediaan hayati sebesar 55 persen, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan obat tersebut dari dalam tubuh dalam separuh kadar adalah 1 jam.

  • Distribusi

Obat Voltadex dapat melintasi plasenta dan memasuki ASI. Obat tersebut memiliki volume distribusi yang berkisar antara 1,3 hingga 1,4 L/kg. Obat tersebut juga memiliki ikatan protein plasma lebih dari 99 persen.

  • Metabolisme

Obat Voltadex dapat menjalani metabolisme efek lintas pertama pada bagian hati.

  • Ekskresi

Obat Voltadex dapat diekskresikan melalui urin sekitar 60 persen dan empedu sekitar 35 persen. Obat tersebut juga memiliki waktu untuk keluar dari tubuh dalam separuh kadar di antara 1 hingga 2 jam.

Manfaat Voltadex

Jika Anda menggunakan obat Voltadex, maka Anda akan memperoleh manfaat sebagai berikut:

  • Meredakan peradangan pada bagian sendi akibat rheumatoid arthritis.
  • Mengurangi gejala peradangan pada bagian tulang belakang (spondilitis ankilosa).
  • Mencegah peradangan pada bagian sendi (osteoartritis).

Penggunaan Voltadex

Jika Anda ingin menggunakan obat Voltadex, maka penggunaannya adalah sebagai berikut:

  • Dosis umum

Penggunaan obat Voltadex adalah sebanyak 1 tablet yang dikonsumsi 3 kali sehari.

  • Pengobatan jangka panjang

Jika Anda menggunakannya dalam jangka panjang, maka penggunaannya adalah sebanyak 1,5 hingga 2 tablet yang dikonsumsi sekali sehari.

Obat Voltadex perlu Anda konsumsi langsung setelah makan.

Efek Samping Voltadex

Sama seperti obat lain, obat Voltadex dapat menimbulkan efek samping berupa:

  • Sakit perut

Jika Anda sakit perut, Anda sebaiknya beristirahat dan minum air hangat.

  • Pusing

Jika Anda merasa pusing, Anda sebaiknya berbaring. Jika merasa lebih baik, Anda bisa duduk, berdiri, dan berjalan.

  • Mual

Jika Anda merasa mual, Anda sebaiknya jangan mengkonsumsi makanan dalam porsi yang banyak.

  • Muntah

Jika Anda muntah, Anda sebaiknya minum minuman yang mengandung gula untuk menenangkan perut.

  • Diare

Jika Anda mengalami diare, Anda sebaiknya jangan minum minuman yang mengandung kafein atau bersoda.

Jika Anda Ingin Bertemu dengan Dokter

Jika Anda mengalami rheumatoid arthritis, Anda dapat menghubungi dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda ajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami akibat rheumatoid arthritis.
  • Daftar riwayat medis (jika diperlukan).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter dapat menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Berapa lama gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda memiliki kebiasaan tertentu?

Kesimpulan

Voltadex merupakan salah satu obat yang dapat mengatasi rheumatoid arthritis. Meskipun demikian, obat tersebut dapat menimbulkan berbagai efek samping. Untuk informasi lebih lanjut tentang obat Voltadex atau rheumatoid arthritis, Anda bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Penyakit

Lakukan Ini untuk Atasi Hiperplasia Adrenal Kongenital

Hiperplasia adrenal kongenital adalah sekelompok kelainan genetik yang mempengaruhi kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal itu sendiri merupakan sepasang organ seukuran kenari yang berlokasi di atas ginjal.

Kelenjar adrenal berfungsi untuk menghasilkan hormon-hormon penting, seperti androgen, kortisol, dan mineralokortikoid. Saat seseorang menderita hiperplasia adrenal kongenital, tubuh mereka akan kekurangan enzim yang diperlukan untuk memproduksi hormon-hormon ini.

Apakah hiperplasia adrenal kongenital berbahaya?

Umumnya, kondisi ini bisa terjadi karena tubuh Anda mengalami kekurangan enzim yang bernama 21-hydroxylase. Rendahnya kadar enzim ini membuat Anda rentan terkena hiperplasia adrenal kongenital.

Pada anak-anak, penyakit ini bisa diderita apabila mereka memiliki kedua orang tua yang juga mengidap penyakti yang sama. Penyakit ini juga bisa diturunkan apabila kedua orang tua tidak memiliki penyakit ini, tetapi membawa mutasi genetik yang menyebabkan kondisi tersebut.

Beberapa gejala dari kondisi hiperplasia adrenal kongenital yang mungkin akan Anda rasakan berupa: 

  • Periode menstruasi yang tidak teratur
  • Masalah kesuburan, lebih sering terjadi pada wanita muda
  • Pertumbuhan bulu tubuh yang tidak diinginkan atau berlebihan
  • Perkembangan rambut kemaluan yang terlalu dini
  • Pertumbuhan jerawat yang parah

Kondisi hiperplasia adrenal kongenital menjadi berbahaya apabila telah berkembang komplikasi berupa krisis adrenal. Komplikasi ini sebenarnya cukup jarang terjadi. Namun, Anda perlu waspada karena komplikasi ini sangat serius.

Krisis adrenal terjadi pada penderita yang menjalani pengobatan dengan glukokortikosteroid. Selama penggunaan obat ini, Anda akan mendapat lebih banyak tantangan ketika mengendalikan stres dan gejala. 

Akibatnya, kapan saja hal ini bisa menyebabkan penurunan kadar tekanan darah, mengakibat syok, hingga menyebabkan kematian.

Anda bisa mengenali gejala dari krisis adrenal berupa diare, muntah-muntah, syok, dehidrasi, dan kadar gula darah rendah. Krisis adrenal harus segera diatasi dengan pengobatan sedini mungkin. 

Cara mengatasi gejala hiperplasia adrenal kongenital

Ada beberapa pilihan pengobatan yang bisa dilakukan bagi penderita kondisi ini. Langkah-langkah pengobatannya berupa: 

  • Penggunaan pil KB

Percaya atau tidak, pil KB juga bisa berkontribusi untuk mengatasi gejala dari penyakit ini. Pil KB dipercaya efektif untu mengendalikan siklus mentruasi, mengurangi jerawat, dan terkadang juga mencegah rambut rontok yang tidak normal.

Karena itu, pil KB juga dipercaya bisa mengatasi gejala hiperplasia adrenal kongenital yang menyebabkan pertumbuhan jerawat berlebih serta siklus mentruasi yang tidak teratur.

  • Obat-obatan

Selain pil KB, ada juga jenis obat-obatan lain yang bisa digunakan untuk mengobati kondisi ini. Jika pil KB kurang efektif meredakan gejala, dokter mungkin akan memberikan Anda obat lain dengan penggunaan steroid dosis rendah untuk sementara waktu.

Konsumsi obat-obatan untuk mengobati hiperplasia adrenal kongenital harus dilakukan secara berkala setiap harinya. Beberapa jenis obat yang mungkin diberikan selain steroid adalah suplemen garam, mineralokortikoid, serta kortikosteroid. 

  • Operasi rekonstruktif

Pasien bayi perempuan dalam rentang usia 6 hingga 12 bulan dapat menjalani operasi yang disebut dengan feminizing genitoplasty. Operasi ini dilakukan guna mengubah tampilan dan fungsi alat kelamin mereka. 

Setelah beranjak dewasa, prosedur operasi ini mungkin perlu diulang kembali. Akan tetapi, resikonya adalah kemungkinan merasakan nyeri atau rasa sakit ketika berhubungan seksual atau mengalami kehilangan sensasi pada klitoris. 

Sebaiknya, berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan upaya pengobatan hiperplasia adrenal kongenital yang paling tepat. Jika kondisi ini menyerang anak Anda, pertimbangkan juga bagaimana dampak jangka panjangnya untuk anak.

Penyakit

Apa Itu Suppositoria dan Kenapa Menggunakannya?

Apa Itu Suppositoria dan Kenapa Menggunakannya?

Suppositoria adalah obat padat yang masuk ke tubuh melalui rektum, vagina, atau uretra.  Suppositoria rektal adalah jenis suppositoria yang paling umum.

Obat bisa masuk ke tubuh Anda dengan beberapa cara berbeda. Anda bisa menelan pil, minum cairan, atau disuntik. Suppositoria adalah cara lain untuk mengantarkan obat.  Biasanya obat itu adalah benda kecil, bulat atau berbentuk kerucut yang dimasukkan ke dalam tubuh Anda, sering kali ke pantat Anda. Setelah berada di dalam, mereka akan meleleh atau larut dan melepaskan obatnya.

Suppositoria mungkin bukan produk paling menyenangkan yang pernah Anda gunakan.  Tetapi mereka dapat mempermudah minum obat yang tidak dapat Anda telan atau yang tidak dapat diserap oleh perut atau usus Anda.

Suppositoria memiliki basis yang terbuat dari zat seperti gelatin atau mentega kakao yang mengelilingi obat. Saat kehangatan tubuh Anda mencair di luar, obat perlahan-lahan dilepaskan.

Berbagai jenis suppositoria masuk ke rektum, vagina, atau saluran yang mengosongkan kandung kemih Anda, yang disebut uretra. Kadang-kadang mereka merawat area tempat Anda memasukkannya. Atau obatnya menyerap ke dalam darah Anda dan berpindah ke bagian lain dari tubuh Anda.

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa Anda menggunakan suppositoria? Anda mungkin membutuhkan suppositoria karena:

  • Obat yang Anda minum akan rusak terlalu cepat di saluran pencernaan jika Anda meminumnya dalam bentuk pil atau cairan
  • Anda tidak bisa menelan obat
  • Anda muntah dan tidak bisa menelan pil atau cairan
  • Obatnya terasa terlalu buruk untuk diminum.

Suppositoria biasanya aman. Namun ada beberapa masalah yang bisa muncul saat Anda minum obat dengan cara ini, seperti:

  • Beberapa obat mungkin bocor kembali
  • Terkadang tubuh Anda tidak menyerap obat sebaik jika Anda meminumnya
  • Obatnya bisa mengiritasi tempat Anda memasukkannya

Selain itu, jika Anda kurang paham, segera tanyakan kepada dokter Anda sebelum Anda menggunakannya. Dan jika Anda menggunakan suppositoria, pastikan untuk memberitahu dokter jika Anda memiliki kondisi dibawah ini:

  • Memiliki detak jantung tidak teratur
  • Baru saja menjalani operasi pada rektum Anda
  • Pria yang baru saja menjalani operasi prostat
  • Seorang wanita yang menjalani perawatan operasi atau radiasi ke area vagina Anda.

Suppositoria bermanfaat bagi orang yang tidak dapat minum obat melalui mulut. Orang yang mengalami kesulitan menggunakan suppositoria harus meminta nasihat dokter mereka.

Meskipun suppositoria mungkin tidak menyenangkan untuk digunakan, suppositoria rektal, vagina, dan uretra dapat menjadi cara yang efektif untuk memberikan obat.