Penyakit

Dosis yang Dianjurkan Agar Tidak Merasakan Efek Samping Lamivudin

Lamivudine merupakan obat yang digunakan dalam kombinasi dengan obat-obatan lain guna pengobatan infeksi yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV). Meski demikian lamivudine bukanlah obat yang mampu menyembuhkan atau mencegah penyakit HIV atau AIDS, selain itu selayaknya obat pada umumnya terdapat efek samping lamivudin yang perlu diketahui.

Obat ini mampu mencegah replikasi HIV dan memperlambat kerusakan sistem kekebalan tubuh, lamivudine juga digunakan untuk mengobati infeksi virus hepatitis B kronis. Lamivudine merupakan obat resep, pengguna obat ini harus mengikuti seluruh petunjuk dokter selama mengonsumsi obat ini dan sangat tidak dianjurkan meminumnya dengan asal.

Efek Samping Lamivudine

Dalam setiap pemakaian obat sudah pasti memiliki efek samping tertentu yang muncul dan dialami pasien yang mengonsumsi obat tersebut. Namun, efek samping ini belum tentu terjadi pada setiap pemakaian obat dan apabila tejadi efek berlebih harus segera mendapat penanganan medis, berikut beberapa efek samping setelah mengonsumsi lamivudine.

  • Nyeri perut, mual, muntah dan diare.
  • Sakit kepala disertai dengan demam.
  • Munculnya ruam, alopecia, malaise, insomnia.
  • Arthalgia, nyeri muskoloskeletal, pankreatitis.
  • Anemia, neutropenia, trombositpenia, sindrom rekonstitusi imunitas.
  • Lipodistrofi, kelaianan metabolik (hipertrigliserdermia, hiperkolesterolemia, resistensi insulin, hiperlactatemia) dan osteonecrosis.

Jika mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas setelah mengonsumsi obat ini segera beritahukan kepada dokter agar segera mendapat penanganan. Jangan dianggap sepele karena efek samping yang muncul bisa berpotensi fatal seperti asidosis laktat, hepatomegali disertai steatosis. Jika tidak segera menghilang dengan sendirinya, segera konsultasi ke dokter.

Dosis Lamivudine

Dosis untuk mengatasi infeksi HIV dikombinasikan dengan obat antivirus lainnya, untuk orang dewasa dosis yang diberikan sebanyak 150 mg, dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari. Sementara itu untuk anak usia lebih dari tiga bulan maka digunakan dosis 75-150 mg, diberikan dua kali sehari dan dosis maksimum 300 mg per hari.

Dosis hepatitis B kronis untuk dewasa sebanyak 100 mg diberikan sekali dalam sehari, khusus untuk penderita hepatisis B dan HIV diberikan 150 mg sebanyak dua kali sehari atau 300 mg sekali dalam sehari. Sementara untuk anak usia  dua sampai 17 tahun diberikan 3 mg/kg berat badan, dosis maksimal 100 mg per hari.

Lamivudine merupakan obat resep, pengguna atau pasien harus mengikuti seluruh petunjuk dokter selama konsumsi obat ini. Obat ini bisa diminum sebelum atau sesudah makan, namun sebaiknya dikonsumsi secara rutin pada jam yang sama setiap harinya guna mendapatkan hasil maksimal dari kinerja obat.

Jika lupa minum obatnya, segera minum ketika ingat dan dilarang untuk menggandakan dosis obat ketika jadwal mengonsumsinya sudah dekat. Dan yang paling harus diingat adalah jangan sampai mengonsumsi tanpa sepengetahuan dokter, hal ini tak lepas dari efek samping lamivudine yang tak bisa disepelekan.

Selama mengonsumsi obat ini pasien juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan dengan rutin. Bagi pasien hepatisis B, akan menjalani tes fungsi hati secara rutin, baik selama mengonsumsi obat ini atau setelah selesai menjalani pengobatan. Untuk pasien HIV, akan diberikan jadwal menjalani tes kekebalan tubuh dan jumlah virus dalam tubuh secara rutin.

Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan tempat yang lembap. Jangan disimpan di kamar mandi dan jangan sampai dibekukan, meskipun merek lain dari obat ini sangat mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda.