Hidup Sehat

Sebelum Melakukan Donor Jantung Anak, Ketahui Risiko-Risikonya!

Donor jantung merupakan tindakan mengganti jantung lama dengan jantung baru yang sehat. Tindakan ini dilakukan jika orang tua penerima donor dan pendonor sama-sama setuju. Donor jantung dikatakan berhasil apabila anak dapat hidup normal dan sehat setelah operasi. Akan tetapi sebelum melakukan donor, ada baiknya orang tau memahami risiko apa saja yang mungkin terjadi.

  • Penolakan jantung baru

Salah satu masalah yang paling sering ditemui dalam operasi donor jantung ialah penolakan tubuh terhadap jantung baru. Tubuh akan menganggap jantung baru sebagai benda asing layaknya tubuh mempertahakan diri dari kuman dan bakteri. Sistem imun akan menyerang keberadaan benda asing tersebut. Obat-obatan imunosupresan membantu mengontrol reaksi penolakan sehingga tubuh pada akhirnya dapat menerima jantung baru. Jika memang terjadi penolakan, maka akan terlihat reaksinya di minggu-minggu awal setelah operasi donor.

  • Infeksi

Berbagai pengobatan setelah operasi donor dilakukan agar tidak terjadi penolakan jantung baru, salah satunya obat anti-rejeksi. Akan tetapi, obat anti-rejeksi berpotensi menimbulkan efek samping seperti demam, sakit kepala, mual, kelelahan, dan iritasi. Jika anak mengalami reaksi-reaksi tersebut, segera hubungi dokter. Dokter akan memberikan obat tambahan untuk menaggulangi efek samping yang terjadi.  Obat anti-rejeksi juga dapat menyebabkan infeksi sehingga orang tua disarankan untuk menjauhkan anak dari orang yang sedang sakit.

  • Penggumpalan darah

Donor jantung anak memiliki risiko tinggi terhadap kejadian tromboembolisme vena akut yang terdiri dari trombosis vena dalam. Kondisi tersebut mengakibatkan penggumpalan darah di satu pembuluh darah atau lebih. Selain itu, trombosis vena dalam juga menyebabkan nyeri dan pembengkakan di bagian betis. Jika tidak ditangani dengan serius penggumpalan darah setelah operasi bisa mengakibatkan stroke dan serangan jantung.

  • Permasalahan paru-paru

Selain menyebabkan penggumpalan darah, kejadian tromboembolisme vena akut juga mengakibatkan gangguan embolisme pulmonari. Embolisme pulmonari merupakan kondisi saat gumpalan darah masuk ke dalam aliran darah kemudian menyumbat pembuluh darah di paru-paru. Jika tidak ditangani dengan segera embolisme pulmonari bisa menyebabkan kematian.

  • Jerawat dan penambahan berat badan

Obat imunosupresan mengakibatkan munculnya jerawat dan penambahan berat badan terutama bagi pasien remaja. Hal ini menyebabkan anak tidak ingin mengonsumsi imunosupresan lagi setelah selesai operasi donor jantung. Penolakan jantung baru pun dapat terjadi apabila pengobatan dihentikan. Peran orang  tua sangan penting untuk meyakinkan anak mengenai fungsi obat yang diminum serta berbagai risikonya.

Dukungan orang tua terhadap anak

Tindakan donor jantung memang tak mudah dihadapi oleh orang tua apalagi anak. Berikut ini merupakan cara agar anak tetap merasa nyaman dan sehat mental setelah melakukan operasi donor jantung:

  • Orang tua harus selalu ada saat anak ingin bercerita dan mengeluhkan kondisinya. Dengan demikian, orang tua akan mengetahui apabila ada efek samping yang timbul sehingga anak akan mendapatkan penanganan secepatnya
  • Jika anak dirasa membutuhkan dukungan lebih, orang tua bisa mendatangkan terapis atau konselor
  • Temukan kelompok yang mengalami kondisi serupa, terlebih apabila anak di usia remaja yang sedang aktif dalam lingkup sebaya mereka. Pengalaman orang lain mampu menjadi cara penghilang stres dan menumbuhkan rasa optimisme

Tindakan donor jantung anak tidak dipungkiri membuat orang tua khawatir. Orang tua juga membutuhkan dukungan mental dalam menghadapi kondisi anak. Ada baiknya, jika orang tua berkomunikasi dengan orang-orang yang memahami kondisi yang sama. Jika perlu, tanyakan kepada tim perawatan transplantasi mengenai kelompok keluarga lain yang mengalami kondisi tersebut agar mampu saling menguatkan.