Bayi & Menyusui

Sindrom Bayi Biru Bayi 3 Bulan

Sindrom bayi biru, juga dikenal dengan sebutan methemoglobinemia bayi, merupakan sebuah kondisi di mana kulit bayi berubah menjadi biru. Kondisi ini sering terjadi pada bayi 3 bulan atau kurang, dan terjadi akibat berkurangnya jumlah hemoglobin di dalam darah bayi.

Hemoglobin adalah sebuah protein darah yang bertanggungjawab dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh dan mengantarkannya ke sel dan jaringan yang berbeda. Ketika darah tidak mampu membawah oksigen ke seluruh tubuh, bayi akan berubah menjadi biru (cyanotic). Sindrom bayi biru jarang ditemui di negara-negara berkembang. Namun, kondisi ini dapat ditemukan di negara-negara berkembang dengan kualitas pasokan air yang buruk. 

Penyebab sindrom bayi biru pada bayi 3 bulan

Penyebab utama kasus sindrom bayi biru pada bayi 3 bulan atau kurang adalah air yang terkontaminasi oleh nitrat. Setelah bayi meminum formula yang terbuat dari air kaya kandungan nitrat, tubuh akan mengubah nitrat menjadi nitrit. Nitrite tersebut akan mengikat hemoglobin di dalam tubuh, membentuk methemoglobin, yang tidak dapat membawa oksigen. Nitrat banyak ditemui di air minum di masyarakat petani yang menggunakan air sumur. Kontaminasi ini disebabkan karena penggunaan pupuk. Bayi 3 bulan atau kurang memiliki risiko paling tinggi untuk menderita sindrom bayi biru, namun kondisi ini juga dapat menyerang kelompok lain.

Orang-orang yang berisiko menderita methemoglobinemia adalah orang dewasa dengan kecenderungan genetik, menderita maag atau gastritis, dan gagal ginjal yang membutuhkan dialisis. Kondisi lain yang menyebabkan bayi tampak biru di antaranya adalah:

  • Tetralogy of fallot (TOF). TOF merupakan sebuah kondisi jantung bawaan serius yang menyebabkan ketidaknormalan struktural di jantung dan dapat mengakibatkan kurangnya oksigen di dalam darah. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi terlihat biru, meskipun biasanya terjadi pada saat dilahirkan. 
  • Ketidaknormalan jantung bawaan lainnya. Ketidaknormalan jantung bawaan yang memengaruhi jumlah oksigen di darah bayi dapat menyebabkan kulit mereka terlihat biru. 
  • Methemoglobinemia. Hal ini disebabkan karena paparan nitric oxide yang dihirup, atau obat bius dan antibiotik tertentu. 

Gejala yang paling sering ditemui dalam kasus sindrom bayi biru adalah kulit di sekitar mulut, tangan, dan kaki yang berubah warna menjadi biru. Kondisi tersebut juga dikenal dengan sebutan cyanosis dan merupakan sebuah tanda bahwa seorang anak atau seseorang tidak mendapatkan cukup oksigen. Potensi gejala lain sindrom bayi biru adalah sulit bernapas, muntah, diare, hilangnya kesadaran, dan kejang. Dalam kasus yang parah, sindrom bayi biru dapat menyebabkan kematian. 

Perawatan bervariasi tergantung apa yang menyebabkan bayi berubah menjadi biru. Apabila penyakit jantung bawaan menyebabkan perubahan warna tersebut, operasi dibutuhkan untuk membenarkan ketidaknormalan yang terjadi. Dokter bedah biasanya mengoperasi anak sebelum bayi berusia 1 tahun, idealnya saat ia berusia 6 bulan, atau bahkan lebih dini. Operasi yang sukses berarti bayi akan mendapatkan cukup oksigen dan tidak akan terlihat biru. Apabila level nitrat yang tinggi dalam air menyebabkan sindrom bayi biru, dokter akan berkonsultasi dengan pusat pengendalian racun atau toxicologist untuk membantu menemukan cara terbaik dalam merawat kondisi ini. Menghindari sumber kontaminasi nitrat, misalnya air sumur atau air keran, sangat penting untuk semua bayi yang memiliki kondisi ini. 

Sindrom bayi biru merupakan sebuah kondisi langka ketika bayi 3 bulan meminum formula yang dibuat dari air yang telah terkontaminasi nitrat dalam level tinggi. Oleh karena alasan inilah, sangat penting untuk menghindari memberikan bayi air dari sumur hingga ia berusia setidaknya 1 tahun. Obat-obatan dan pemantauan bayi bisanya dapat membantu mencegah komplikasi. Jika tidak dirawat, sindrom bayi biru dapat menyebabkan kematian.