Uncategorized

Langkah untuk Membuat dan Memastikan Aturan di Rumah Diikuti oleh Anak

Setiap orang tua biasanya memiliki seperangkat aturan di rumah yang seyogyanya diikuti oleh anak-anak. Peraturan-peraturan ini dibuat bukan untuk mengekang, melainkan untuk mendidik anak tentang batasan dan nilai-nilai kesopanan yang ada di masyarakat. Meski begitu, bukan berarti orang tua perlu mengedepankan ego pribadi sebagai orang yang merasa lebih dewasa dibanding anak-anak. Karena jika begitu, bukan tidak mungkin anak akan memilih untuk membangkang.

Ada beberapa cara untuk membuat dan memastikan aturan di rumah diikuti oleh anak sekaligus menjadikan rumah tempat yang kondusif dan hangat untuk berkegiatan. Apa saja kira-kira?

Memiliki Dasar Alasan yang Kuat dan Mengkomunikasikannya

Aturan di rumah haruslah dibuat atas dasar alasan yang kuat dan yang tak kalah penting harus dikomunikasikan pada seluruh anggota keluarga yang ada di rumah.

Misalnya, sebagai ibu, Anda ingin mendidik anak untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa peduli gender karena ini penting untuk kemampuan bertahan anak saat dewasa. Anda bisa memulai dengan membuat peraturan mencuci piring dan gelas masing-masing setelah selesai makan. Saat mengkomunikasikan peraturan ini, beritahu juga alasan dibalik pembuatannya dan apa manfaat yang akan didapat.

Dengan begitu, otak anak bisa terstimulasi untuk memahami logika dibalik peraturan tersebut. Komunikasi yang dilakukan dengan baik juga akan membuat anak tidak merasa terpaksa melakukannya karena ia tahu bahwa itu tanggung jawabnya dan akan bermanfaat bagi diri sendiri.

Memberikan Apresiasi Ketika Anak Tidak Melanggar Peraturan dalam Seminggu

Apresiasi diberikan hanya jika buah hati berhasil mengikuti semua aturan di rumah dalam seminggu. Apresiasi ini bisa berupa apa saja, mulai dari ucapan, gestur kasih sayang, atau bahkan hari spesial di mana mereka bisa request masakan atau kegiatan tertentu untuk dilakukan bersama keluarga.

Jenis pemberian reward seperti ini akan membuat anak merasa dihargai perilaku positifnya tanpa membuat anak merasa bahwa ia bisa pamrih dalam mematuhi aturan di rumah. Tak hanya pada anak, Anda juga bisa melakukan hal yang sama pada anggota keluarga lain seperti saudara dan pasangan. Dengan begitu, anak jadi tahu bahwa ia punya kedudukan yang cukup setara dengan orang lain dan tidak ada beban pekerjaan rumah yang timpang.

Memberikan Penegasan Jika Aturan di Rumah Tidak Dilakukan

Bukan anak-anak namanya jika tidak melakukan kesilapan dan sudah jadi orang tua untuk menegur dan meluruskan perilaku yang kurang baik. Tapi, jangan sampai menghukum anak dengan cara-cara yang justru bisa menimbulkan trauma.

Anda masih bisa menegur dan memberikan hukuman yang tegas pada anak jika tidak mengikuti aturan di rumah. Misalnya, jika anak tidak mengembalikan mainan ke tempatnya setelah digunakan, maka tegaskan kalau sampai mainan tersebut hilang maka Anda tidak akan membelikan yang sama lagi.

Selain itu, Anda juga bisa mencoba menerapkan discipline corner di rumah. Misal, anak tidak mau mencuci piring dan gelas bekas ia makan, maka tempatkan anak di discipline corner dan larang semua anggota keluarga untuk berbicara dengan si buah hati sampai ia mau menyadari apa kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulangi hal yang sama.

Pemberian penegasan dan hukuman yang ringan ini sebagai cara untuk mendidik anak bahwa setiap tindakan yang ia lakukan mengandung konsekuensi dan dialah orang yang akan menanggung konsekuensi dari perilaku yang buruk tersebut. Menegakkan aturan di rumah memang membutuhkan konsistensi, ketegasan, dan metode mendidik anak yang tepat. Coba dipraktikkan dulu, yuk!