Bayi & Menyusui

5 Susu UHT untuk Bayi yang Direkomendasikan Sebagai Pendamping MPASI

Susu UHT untuk bayi dianggap sebagai salah satu cara praktis untuk melengkapi nutrisi pada anak. Selain kemasannya yang bisa dibawa ke mana-mana, susu UHT untuk bayi juga dipercaya mengandung banyak manfaat bagi kesehatan.

Meski demikian, si kecil harus berusia minimal 1 tahun sebelum orang tua dapat memberi susu yang bentuknya mirip susu segar ini. Selain itu, susu juga bukan pengganti makanan bayi sehingga anak tetap harus mendapat asupan bergizi seimbang dari nasi, daging, sayur, dan buah-buahan.

Ada pula beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika Anda ingin memberi susu UHT untuk bayi.

  • Jangan lupa untuk tetap memberikan  gizi seimbang yang didapat dari makanan lain, seperti nasi, sayur, buah, dan daging.
  • Ibu tetap dapat memberi ASI pada anak yang berusia di atas 1 tahun dan mengonsumsi susu UHT. IDAI merekomendasikan ibu tetap memberi ASI hingga usia anak minimal 2 tahun.
  • Takaran pas untuk pemberian susu UHT adalah 473-700 ml per hari. Terlalu banyak minum susu UHT dapat membuat anak tidak nafsu makan sehingga mengganggu asupan nutrisinya secara keseluruhan.
  • Pilih susu yang mengandung lemak (full-fat), karena lemak susu penting untuk menjaga berat badan anak dan membantu tubuhnya menyerap vitamin A dan D. Namun, Anda bisa memilih susu low-fat atau non-fat jika anak terindikasi mengalami obesitas.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa susu UHT tidak boleh dijadikan sebagai pengganti makanan padat. Takaran pemberian susu UHT adalah maksimal 30 persen dari total kebutuhan kalori untuk anak yang berusia di atas 1 tahun.

Pilihan susu UHT untuk bayi

Ada beberapa merek susu UHT untuk bayi yang bisa Anda berikan untuk si Kecil. Merek susu UHT ini mudah ditemui di sekitar, sehingga Anda tidak akan kesulitan untuk menemukannya.

  1. Frisian Flag Milky

Frisian Flag Milky merupakan salah satu produk dari Frisian Flag yang di khususkan untuk balita. Dari tampilan dan ukuran, kemasan susu Frisian Flag Milky sangat praktis dan cocok untuk memani aktivitas si Kecil. Susu ini memiliki rangkaian zat gizi makro yang terdiri dari zat gizi penting seperti protein, karbohidrat dan lemak. Selain itu ada juga kandungan zat gizi mikro yang terdiri dari multi vitamin dan mineral untuk mendukung asupan gizi harian si Kecil.

  1. Ultra Mimi

Ultra mimi merupakan produk susu Ultrajaya yang terbuat dari susu segar alami berkualitas tinggi. Produk ini mengandung nutrisi yang lengkap dan berimbang yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang si Kecil. Selain itu, kandungan vitamin, kalsium, dan nutrisi yang ada didalam susu mini sangat mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Susu mini juga sangat mudah didapatkan dengan harga cukup terjangkau.

  1. Indomilk UHT

Susu Indomilk UHT, susu dalam kemasan kotak siap minum diolah dengan proses sterilisasi HTST (High Temperature Short Time) yang akan membunuh bakteri jahat. Susu ini mengandung vitamin A, B1, B6, dan D3 yang berguna untuk tumbuh kembang anak. Varian rasanya juga menyerupai rasa susu segar alami yang baik bagi tubuh. Harga susu Indomilk juga terjangkau dibandingkan dengan susu UHT lainnya.

  1. Dancow Enriched

Dancow Enriched dengan Growth Plus Formula, merupakan produk susu kemasan 110ml siap minum dari Nestlé Research Center. Yang mengandung protein, zat besi, kalsium, zink, vitamin C, vitamin A, vitamin B1, B2, B6 dan B9, vitamin D, vitamin E, vitamin K, serta biotin untuk pertumbuhan si Kecil yang optimal.

  1. Greenfields UHT

Greenfields UHT merupakan produk susu cair dari Greenfields yang diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi si Kecil. Susu ini mengandung protein, vitamin, dan mineral penting, seperti kalsium dan fosfor yang sangat baik untuk mengoptimalkan pertumbuhan si Kecil.

Jadi, jangan ragu lagi jika ingin memberikan susu UHT untuk bayi. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikannya. Hal ini dilakukan agar nutrisi si Kecil seimbang dan sesuai dengan nutrisi yang dibutuhkan.

Bayi & Menyusui

Manfaat Cup Feeder Bayi Dibandingkan Botol Susu

Belakangan, cup feeder bayi mulai dipilih oleh banyak ibu yang bekerja. Hal ini karena cup feeder memiliki banyak manfaat, salah satunya untuk mencegah bayi mengalami bingung puting. 

Selain itu, cup feeder bayi juga berguna untuk bayi yang lahir prematur dan belum bisa menyusu serta bayi yang sedang sakit, sehingga sulit menyusu langsung pada ibunya. 

Dibandingkan botol, memberikan susu melalui cup feeder juga lebih mudah, praktis, serta gampang dibersihkan. Tak heran jika dalam waktu belakangan, penggunaan cup feeder bayi cukup ngetren. 

Manfaat cup feeder bayi

Sebagai bahan pertimbangan, untuk kamu yang bingung apakah akan memberikan bayi cup feeder atau botol susu, berikut ini beberapa manfaat dari penggunaan cup feeder bayi. 

  • Cocok digunakan untuk bayi yang lahir prematur

Cup feeder biasanya sangat direkomendasikan untuk bayi yang lahir prematur yakni pada usia kandungan 29 minggu. Metode ini juga bisa membantu bayi yang memiliki berat badan lahir rendah atau memiliki masalah medis tertentu, seperti bibir sumbing.

  • Solusi untuk bayi yang tidak mau menyusu langsung

Pada beberapa kasus ditemukan bayi yang tidak bisa menyusu langsung pada ibunya. Hal ini bisa terjadi karena puting yang rata, sehingga bayi kesulitan mengisap atau karena masalah mastitis. 

Salah satu solusinya adalah dengan memberikan ASI melalui cup feeder bayi. Dengan cara ini, bayi pun tidak akan mengalami bingung puting. 

  • Mengurangi risiko pertumbuhan gigi yang tidak normal

Salah satu penyebab pertumbuhan gigi yang terganggu pada anak adalah penggunaan dot. Dengan menggunakan cup feeder bisa mencegah pertumbuhan gigi yang tidak normal pada bayi. 

Hal ini disebabkan karena cup feeder diberikan dengan cara menghisap layaknya menghisap puting susu ibu, sehingga cukup aman. 

Selain itu, penggunaan botol susu biasanya juga membuat gigi terendam susu yang bisa menyebabkan gigi bayi jadi bolong dan keropos. 

  • Bayi belajar menggunakan cangkir

Penggunaan cup feeder sejak dini juga bisa membantu bayi belajar minum dari gelas dengan cepat. Hal ini karena bentuk cup feeder memang seperti gelas kecil. Sehingga saat sudah besar, anak tidak kesulitan lagi ketika minum langsung dari gelas. 

  • Murah

Selain membantu bayi dari bingung puting, cup feeder juga memiliki harga yang relatif murah dibandingkan dengan botol susu. Selain itu, cup feeder juga lebih praktis, ringkes, dan mudah dibersihkan. 

Cara menggunakan cup feeder yang tepat agar tidak tersedak

Bentuk cup feeder yang seperti cangkir bisa meningkatkan risiko tersedak pada bayi. Apalagi jika penggunaannya tidak berhati-hati.

Untuk mencegahnya, berikut ini beberapa cara penggunaan cup feeder yang tepat pada bayi agar tidak tersedak. 

  • Letakkan bayi di pangkuan dengan memegang bagian leher serta punggung agar tidak bergeser. Pastikan posisi bayi dalam keadaan nyaman, sehingga mencegah bayi bergerak yang bisa menyebabkan bayi tersedak atau cup feeder terjatuh. 
  • Secara perlahan, dekatkan cup feeder pada mulut bayi dan minumkan ASI dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit. 
  • Apabila bayi sulit menjangkau, miringkan cup feeder sedikit hingga ASI bisa terjangkau dan bisa dihisap oleh bayi. 
  • Tuang ASI perlahan ke dalam mulutnya dan biarkan bayi menghisap ASI sesuai dengan kebutuhannya. Apabila sudah kenyang, biasanya ia akan menutup mulutnya. 

Nah, itu dia beberapa manfaat penggunaan cup feeder yang bisa jadi referensimu. Apabila penggunaan dot terlalu ribet apalagi saat mencucinya, sebaiknya gunakan cup feeder yang lebih praktis dan juga murah. 

Bayi & Menyusui

Penyebab dan Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Perut kembung atau secara medis disebut meteorismus adalah sebuah tanda adanya gangguan pada saluran cerna. Kembung tidak hanya bisa dialami oleh orang dewasa, namun juga bisa dialami oleh bayi.  Para orang tua baru umumnya kerap panik dan bingung bagaimana cara mengatasi perut kembung pada bayi. 

Sebenarnya, pada bayi dibawah 3 bulan kembung merupakan hal yang normal terjadi. Hal ini disebabkan karena belum sempurnanya sistem saluran pencernaan pada bayi. Selain itu, pada bayi diatas 6 bulan biasanya akan membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI). Biasanya bayi akan mencoba banyak sekali makanan baru yang dapat mengakibatkan perut kembung. Maka dari itu, para orang tua tentunya perlu untuk berhati-hati dalam menentukan MPASI dan juga mengetahui cara mengatasi perut kembung pada bayi.

Penyebab Perut Kembung pada Bayi

Ada banyak hal yang menjadi penyebab perut bayi kembung. Namun, perut kembung yang dialami bayi tidak selalu menjadi tanda penyakit yang serius. Berikut beberapa penyebab perut bayi kembung.

  • Banyaknya udara yang tertelan

Posisi menyusu yang tidak pas ataupun penggunaan dot yang tidak sesuai dapat menyebabkan banyaknya udara yang ikut masuk ke saluran pencernaan si Kecil. Contohnya, seperti pada saat mulut bayi sudah terbuka tetapi tidak langsung menggapai puting sang ibu dan juga aliran dot yang terlalu deras. Hal tersebut menyebabkan banyaknya udara berlebih yang ikut masuk ke saluran cerna si kecil.

  • Makanan yang dikonsumsi oleh ibu

Makanan yang dikonsumsi oleh ibu dapat menjadi pemicu perut bayi kembung. Hal ini dikarenakan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu akan terserap ASI, sehingga kembung pada bayi tidak terhindarkan. 

Maka dari itu, para ibu yang sedang menyusui perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Hindari makanan yang dapat memicu produksi gas sesudah dicerna, seperti bawang, brokoli, kentang, dan kol.

  • Tidak cocok dengan makanan atau minuman tertentu

Pada bayi usia 6 bulan keatas biasanya akan membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI). Pada masa MPASI, bayi akan mencoba banyak sekali makanan dan minuman baru yang belum pernah ia konsumsi sebelumnya dengan tekstur yang lebih padat. Hal ini dapat menyebabkan kembung karena lambung bayi masih menyesuaikan dengan makanan dan minuman baru tersebut. Terlebih lagi jika makanan tersebut mengandung lemak, gula, pati, dan tinggi serat, yang dapat meningkatkan resiko perut bayi kembung.

Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Udara ataupun gas masuk kedalam saluran cerna adalah hal yang wajar. Namun berbeda dengan orang dewasa yang saluran pencernaannya sudah matang, bayi membutuhkan bantuan untuk dapat mengeluarkan gas tersebut dari sistem pencernaannya. Berikut cara mengatasi perut kembung pada bayi:

  1. Perhatikan posisi menyusui

Untuk mengatasi perut kembung pada bayi, selalu pastikan jika posisi kepala si Kecil lebih tinggi dari badannya, baik saat menyusui secara langsung ataupun melalui dot. Dengan begitu susu akan lebih mudah masuk ke dalam perut dan udara berlebihnya akan menuju ke atas.

  1. Bantu bayi bersendawa setelah menyusu

Salah satu cara agar udara dapat keluar dari sistem pencernaan si kecil yaitu dengan gendong bayi menghadap Anda, sanggah kan kepada dan lehernya di pundak Anda, lalu menepuk punggungnya dengan lembut hingga bayi sendawa.

  1. Pijat perut bayi

Ada 2 cara pijat yang dapat dicoba yaitu pijat dengan cara mengelus searah jarum jam atau Anda bisa memijat dengan cara seolah-olah menulis huruf ILU menggunakan telapak tangan Anda. 

Anda juga dapat menggunakan minyak telon ataupun balsem bayi untuk menghangatkan perut si Kecil. 

  1. Periksa kembali makanan pendamping ASI 

Jika bayi sudah mengkonsumsi MPASI, Anda perlu meninjau kembali makanan pendamping ASI yang diberikan. Pasalnya, beberapa makanan terutama yang mengandung sorbitol (alkohol gula) dapat meningkatkan resiko bayi mengalami perut kembung.

Itulah beberapa cara mengatasi perut kembung pada bayi. Biasanya kembung akan reda dalam waktu beberapa saat. Namun, jika kembung tak kunjung reda dan menunjukan adanya tanda-tanda masalah serius pada anak, maka sebaiknya konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Bayi & Menyusui

Sudah Amankah Posisi Tidur Bayi? Cek Tipsnya

Sudah Amankah Posisi Tidur Bayi? Cek Tipsnya

Saat bayi tidur, Anda pasti senang karena artinya Anda juga bisa mengambil istirahat sejenak. Namun jangan lupa, perhatikan selalu posisi tidur bayi. Posisi tidur yang salah bisa berisiko menimbulkan masalah kesehatan bagi bayi sampai kematian mendadak. 

Kondisi ini terjadi karena sistem pernapasan dan imunitas bayi masih tergolong rendah sebelum usia 2 tahun. Karena itu, posisi tidur bayi yang salah bisa mengganggu sistem pernapasannya dan membuatnya kesulitan bernapas hingga akhirnya gagal napas jika tidak Anda tolong dengan segera. 

Jadi, bagaimanakah mengetahui posisi tidur bayi cukup aman untuk keselamatannya? Tidak usah ambil pusing. Berikut ini adalah beberapa tips posisi tidur bayi yang aman dan dapat Anda terapkan sesegera mungkin 

Pastikan Posisi Tidur Bayi Telentang 

Posisi tidur bayi Anda masih cenderung miring atau justru tengkurap? Segera ubah kebiasaan tersebut. Pastikan Anda selalu menaruh bayi untuk tidur dengan posisi telentang setiap kali hendak tidur. Ini merupakan posisi terbaik untuk membuat pernapasannya berjalan lancar sehingga risiko kematian mendadak dapat diminimalkan sekecil mungkin. 

Susui Sebelum Tidur 

Pastikan Anda menyusui bayi sebelum tidur. Dalam sebuah survei dan penelitian, menyusui bayi saat ia hendak tidur sampai ia mengantuk bisa membuat risiko gagal napas ketika tidur terhindari. Namun, jangan salah kaprah. Anda cukup menyusui si kecil sampai ia mengantuk, kemudian tinggal menimang atau menepuk dan mengusap punggungnya guna membuatnya terlelap. Jangan biasakan menyusuinya sampai benar-benar tertidur karena hanya akan membuat risiko tersedak dan perut kembung semakin besar. 

Sebaiknya Bayi Tidur Terpisah 

Bagaimana cara tidur bayi Anda selama ini? Masih banyak orang memilih tidur satu ranjang dengan bayi. Posisi tidur bayi seperti itu sangat berisiko. Pasalnya, bayi bisa saja tertiban oleh Anda, khususnya ketika Anda sedang benar-benar tertidur lelap dan dalam kondisi lelah. Cobalah untuk memisahkan tempat tidur bayi dalam keranjang tersendiri. Untuk bayi di bawah satu tahun, memutuskan tidur dalam satu kamar dan di ranjang yang terpisah adalah pilihan terbijak. 

Pakaikan Selimut? Pertimbangkan Lagi 

Anda mungkin berpikir posisi tidur bayi dengan selimut akan membuatnya nyaman dan tidurnya menjadi lelap sepanjang malam. Jangan salah. Posisi tidur bayi dengan selimut justru rentan bisa berisiko bayi kesulitan bernapas apabila selimutnya tertarik sampai menutupi wajah. Jadi jika Anda masih sering memakaikan selimut ke bayi, coba pertimbangkan lagi. Lebih baik Anda menurunkan suhu udara di ruangan daripada memakaikannya selimut yang berisiko, bukan? 

Singkirkan Semua Mainan 

Mainan yang terlalu banyak di ranjang bayi bisa memicu bahaya, walaupun posisi tidur bayi sebenarnya sudah tepat. Adanya mainan di sekelilingnya juga rentan membuat bayi ingin menggapai mainan tersebut hingga posisi tidurnya berubah menjadi berbahaya. Jadi setiap bayi hendak tidur, cobalah untuk menyingkirkan seluruh mainannya. Biarkan ranjang bayi bersih untuk persiapan tidur sang buah hati. 

Gunakan Kasur Datar dan Kuat 

Kualitas kasur bisa sangat berpengaruh pada posisi tidur bayi yang aman. Pastikan Anda menggunakan kasur yang datar dan kuat sebagai tempat tidur bayi. Jangan sampai, tempat tidur bagi mudah “mendelep” sehingga membuat bayi terjebak ke bawah dan sulit untuk bergerak ataupun bernapas. Pastikan pula kasur bayi datar supaya ia tidak mudah terguling sehingga posisi tidur bayi berubah menjadi berbahaya. 

Jadi dari semua tips di atas, bagian mana saja yang sudah Anda praktikkan untuk posisi tidur bayi yang aman? Jika ada yang belum, segera digenapi, yuk.

Bayi & Menyusui

Tips Melakukan Stimulasi Bayi agar Cerdas dari Usia 0-24 Bulan

Tips Melakukan Stimulasi Bayi agar Cerdas dari Usia 0-24 Bulan

Agar bayi tumbuh cerdas dan pintar, orang tua perlu tahu cara menstimulasi anak sejak dini. Cara stimulasi bayi agar cerdas umumnya bisa dilakukan dengan stimulasi umum dan spesifik yang sesuai dengan usia bayi.

Stimulasi adalah rangsangan suara (auditori), visual, sentuhan, kinestetik yang diberikan sejak otak bayi mulai berkembang (sejak bayi baru lahir). Tujuan stimulasi adalah merangsang kualitas dan kuantitas sel-sel otak agar dapat bekerja dan berfungsi secara optimal.

Kecerdasan seseorang umumnya dapat dilihat dari hasil atau pencapaian tertentu. Hal tersebut juga berlaku pada bayi. Ciri bayi cerdas dan pintar dapat dilihat dari perkembangan dan tumbuh kembang anak sejak bayi baru lahir.

Dikutip dari Kidspot Australia, sejumlah ciri bayi pintar dan cerdas yang harus diperhatikan sejak dini adalah di antaranya seperti ini.

  1. Mencapai milestones

Mencapai milestones atau pencapaian lebih cepat dari pada bayi lainnya di usia mereka. Misalnya bayi lebih cepat berjalan atau lebih cepat berbicara dari bayi lainnya dalam standar umur perkembangan mereka.

  1. Mudah berkonsentrasi

Saat bayi telah memiliki konsentrasi dan fokus yang baik, maka bayi bisa masuk ke dalam kategori bayi pintar dan cerdas. Misalnya si Kecil bisa fokus pada mainannya atau membaca buku hingga selesai tanpa teralihkan.

  1. Mampu menyelesaikan masalah

Dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik. Ini bisa terlihat misalnya ketika Anda meletakan mainan di suatu tempat yang tak bisa dijangkaunya, kemudian ia mencari beragam cara untuk mengambilnya.

  1. Suka menyendiri

Ciri bayi pintar yang satu ini mungkin sering disalah artikan oleh para orangtua. Namun, bayi yang pintar umumnya akan lebih menikmati waktunya bermain sendiri atau ditemani orang dewasa ketimbang bermain dengan rekan seusianya. 

  1. Memiliki rasa penasaran tinggi

Rasa penasaran yang tinggi umumnya dapat terlihat pada bayi usia di atas 1 tahun, yakni saat mereka mengajukan pertanyaan yang begitu kompleks dan rinci. Mereka akan mulai menanyakan mengapa suatu kejadian bisa terjadi dan menuntut alasannya yang jelas.

  1. Memiliki berat badan lahir tinggi

Penelitian menunjukan berat badan lahir yang tinggi dapat disamakan dengan IQ yang sedikit lebih tinggi di sepanjang hidupnya.

Memberi stimulasi bukan berarti memberikan banyak mainan edukasi kepada anak Anda, atau mendaftarkannya pada banyak sekolah atau kursus. Sebaliknya, gerakan sederhana seperti menyentuh bayi dengan rasa sayang sudah bisa dikatakan sebagai bentuk stimulasi, yang menandakan bahwa ia mendapat kasih sayang dari orangtuanya.

Selebihnya, Anda dapat melakukan stimulasi bayi agar cerdas dan pintar sejak dini sesuai dengan usianya. Nah, berikut beberapa contoh cara menstimulasi otak bayi agar cerdas berdasarkan usia yang dapat Anda jadikan rujukan.

  1. Bayi berusia 0-3 bulan
  • Menyentuh bayi dengan kasih sayang
  • Memberikan bayi pijatan
  • Menggendong dan mengatun-ayunkannya
  • Menatap matanya
  • Mengajaknya bercanda
  • Membuatnya tengkurap (tummy time)
  1. Bayi berusia 3-6 bulan
  • Memanggil nama si bayi
  • Melihat cermin
  • Bermain cilukba
  • Melatih untuk berguling dan duduk
  • Memegang dan bermain dengan mainan.
  1. Bayi berusia 6-9 bulan
  • Memanggil nama bayi dan melambaikan tangan
  • Menunjuk objek
  • Bersalaman dan tepuk tangan
  • Memegang gelas dan minum dari gelas
  • Melatih duduk tegak
  • Melatih berdiri sambil berpegangan.
  1. Bayi berusia 9-12 bulan
  • Melatih kosakata bayi dengan mengajak berbicara satu suku kata, misalnya mama, papa, mimi, bobo)
  • Menggelindingkan bola
  • Corat-coret
  • Meniru mimik orangtua
  • Melatih berdiri dan berjalan.
  1. Anak usia 12-18 bulan
  • Menunjuk gambar atau objek
  • Menggabungkan kata
  • Menyusun balok dan puzzle
  • Menggunakan sendok
  • Bermain dengan boneka
  • Meniti tangga (dengan dampingan orangtua)
  • Membungkuk
  • Berjalan mundur
  • Berlari dan menendang bola
  1. Anak usia 18-24 bulan
  • Mengenalkan nama-nama bagian tubuh
  • Membacakan buku cerita
  • Bermain musim
  • Tahu nama-nama kegiatan sehari-hari
  • Bermain lilin mainan
  • Mencuci dan mengeringkan tangan
  • Membuka pakaian
  • Melempar bola
  • Melompat
  • Menggosok gigi

Bukan hanya stimulasi bayi agar cerdas dan pintar serta tumbuh dengan sehat yang harus diperhatikan. Namun, ketika masih ASI eksklusif maupun saat memasuki masa MPASI di usia 6 bulan, Anda juga perlu memastikan jenis makanan bergizi untuk bayi.

Makanan yang perlu dikonsumsi ibu untuk mendorong anak tumbuh cerdas, aktif dan sehat sejak masih bayi salah satunya seperti sayuran, kacang-kacangan, ikan, telur, alpukat, brokoli hingga buah beri.

Bayi & Menyusui

Fakta-Fakta Seputar Suhu Tubuh Normal Bayi

Bayi adalah masa di mana seorang manusia masih membutuhkan bantuan orang lain. Fisik dan psikisnya belum kuat untuk menghadapi apa-apa sendiri. Mudahnya, bayi tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Perbedaan itu juga bisa dideteksi dari suhu tubuh normal keduanya. Dibanding orang dewasa, ada fakta unik di balik suhu tubuh normal bayi, semisal:

  • Tidak tetap, berubah sesuai keadaan sekitar

Ada satu fakta unik terkait suhu tubuh normal bayi, yakni kisaran suhu tubuhnya tidak tetap alias bisa berubah-ubah. Yang menjadikan suhu tubuh normal bayi berubah-ubah adalah tergantung dari waktu pengukuran suhunya, metode pengecekannya, hingga alat yang digunakan untuk mengukur suhu tersebut.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah suhu udara. Suhu tubuh si kecil bisa jadi akan sedikit naik dalam cuaca panas. Kemudian, suhu tubuhnya bisa jadi lebih rendah saat cuaca dingin. Termasuk suhu tubuh normal bayi akan lebih tinggi saat si kecil aktif bergerak, dibandingkan saat dia beristirahat.

  • Tiap bagian tubuh merepresentasikan suhu tubuh yang berbeda

Ada beberapa area tubuh yang bisa dan umum digunakan untuk mengukur suhu tubuh normal bayi dengan termometer. Nah, tiap-tiap area tubuh tersebut ternyata punya representasi suhu tubuh yang berbeda, misalnya: 

  • Mulut: sekitar 35,8-37,5° Celsius.
  • Dubur: sekitar 36,6-38° Celsius.
  • Ketiak: sekitar 36,5-37,3° Celsius.
  • Telinga: sekitar 35,8-38° Celsius.

Fakta ini harus dipahami oleh para ibu. Jangan sampai situasi ini membuat bingung, serta panik karena mendapati hasil pengukuran suhu tubuh bayi berbeda-beda di tiap spot pengukuran.

  • Suhu tubuh normal terendah di bawah orang dewasa

Suhu tubuh normal orang dewasa berada di kisaran angka 36,1 sampai dengan 37,2 derajat Celsius. Berbeda dengan orang dewasa, suhu tubuh normal bayi bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari itu. Adapun “batas bawah” suhu tubuh bayi yang masih dapat dikatakan normal adalah 35,8 derajat Celsius. 

Suhu tersebut bisa didapatkan apabila mengukur suhu tubuh bayi dengan termometer di area mulut. Kondisi ini umum terjadi karena setelah melakukan aktivitas dan tidur, perlahan suhu bayi akan menurun mencapai titik ini. Hal ini akan terjadi pada tengah malam, sekitar pukul 02.00. Saat bangun pagi suhu tubuhnya akan naik menjadi sekitar 36,1° selsius.

  • Suhu tubuh normal tertinggi ada di atas orang dewasa

Hampir sama dengan fakta sebelumnya, intinya “batas atas” suhu tubuh normal bayi berada di atas orang dewasa. Kondisi ini terjadi karena mulai sejak bangun pagi, suhu tubuh bayi akan terus meningkat seiring aktivitas yang dilakukan sepanjang hari. Puncak suhu tubuh normal bayi tertinggi adalah pada sore hari. 

Pada saat itu, laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), suhu tubuh bayi bisa mencapai 37,5° selsius. Menghadapi kondisi ini, ibu tidak perlu khawatir dan langsung menganggap anaknya demam. Ini adalah suhu tubuh normal bayi setelah dia beraktivitas.

  • Hati-hati memilih tempat mengukur suhu

Seperti yang sudah ditulis di atas, bahwa ada beberapa area yang bisa digunakan untuk mengukur suhu tubuh normal bayi. Kendati bisa, tetapi tidak semua tempat tersebut baik untuk menentukan suhu tubuh si kecil. 

Masih menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), cara pengukuran suhu tubuh bayi yang disarankan adalah dengan termometer digital atau termometer air raksa yang diletakkan di ketiak. 

Pengukuran suhu tubuh dengan menggunakan termometer yang ditempelkan di dahi atau dimasukkan ke lubang telinga tidak dianjurkan karena tidak memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Sementara pengukuran suhu tubuh dengan memasukkan termometer ke lubang dubur juga tidak dianjurkan karena bisa melukai anus.

Itulah beberapa fakta unik terkait suhu tubuh normal bayi. Informasi di atas dapat dipahami sebagai sesuatu yang mungkin berguna bagi kamu dan keluarga di masa-masa mendatang. Di akhir, pastikan suhu tubuh bayi kamu tetap di ambang normal, ya, agar mekanisme tubuhnya selalu terjaga.

Bayi & Menyusui

Sindrom Bayi Biru Bayi 3 Bulan

Sindrom bayi biru, juga dikenal dengan sebutan methemoglobinemia bayi, merupakan sebuah kondisi di mana kulit bayi berubah menjadi biru. Kondisi ini sering terjadi pada bayi 3 bulan atau kurang, dan terjadi akibat berkurangnya jumlah hemoglobin di dalam darah bayi.

Hemoglobin adalah sebuah protein darah yang bertanggungjawab dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh dan mengantarkannya ke sel dan jaringan yang berbeda. Ketika darah tidak mampu membawah oksigen ke seluruh tubuh, bayi akan berubah menjadi biru (cyanotic). Sindrom bayi biru jarang ditemui di negara-negara berkembang. Namun, kondisi ini dapat ditemukan di negara-negara berkembang dengan kualitas pasokan air yang buruk. 

Penyebab sindrom bayi biru pada bayi 3 bulan

Penyebab utama kasus sindrom bayi biru pada bayi 3 bulan atau kurang adalah air yang terkontaminasi oleh nitrat. Setelah bayi meminum formula yang terbuat dari air kaya kandungan nitrat, tubuh akan mengubah nitrat menjadi nitrit. Nitrite tersebut akan mengikat hemoglobin di dalam tubuh, membentuk methemoglobin, yang tidak dapat membawa oksigen. Nitrat banyak ditemui di air minum di masyarakat petani yang menggunakan air sumur. Kontaminasi ini disebabkan karena penggunaan pupuk. Bayi 3 bulan atau kurang memiliki risiko paling tinggi untuk menderita sindrom bayi biru, namun kondisi ini juga dapat menyerang kelompok lain.

Orang-orang yang berisiko menderita methemoglobinemia adalah orang dewasa dengan kecenderungan genetik, menderita maag atau gastritis, dan gagal ginjal yang membutuhkan dialisis. Kondisi lain yang menyebabkan bayi tampak biru di antaranya adalah:

  • Tetralogy of fallot (TOF). TOF merupakan sebuah kondisi jantung bawaan serius yang menyebabkan ketidaknormalan struktural di jantung dan dapat mengakibatkan kurangnya oksigen di dalam darah. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi terlihat biru, meskipun biasanya terjadi pada saat dilahirkan. 
  • Ketidaknormalan jantung bawaan lainnya. Ketidaknormalan jantung bawaan yang memengaruhi jumlah oksigen di darah bayi dapat menyebabkan kulit mereka terlihat biru. 
  • Methemoglobinemia. Hal ini disebabkan karena paparan nitric oxide yang dihirup, atau obat bius dan antibiotik tertentu. 

Gejala yang paling sering ditemui dalam kasus sindrom bayi biru adalah kulit di sekitar mulut, tangan, dan kaki yang berubah warna menjadi biru. Kondisi tersebut juga dikenal dengan sebutan cyanosis dan merupakan sebuah tanda bahwa seorang anak atau seseorang tidak mendapatkan cukup oksigen. Potensi gejala lain sindrom bayi biru adalah sulit bernapas, muntah, diare, hilangnya kesadaran, dan kejang. Dalam kasus yang parah, sindrom bayi biru dapat menyebabkan kematian. 

Perawatan bervariasi tergantung apa yang menyebabkan bayi berubah menjadi biru. Apabila penyakit jantung bawaan menyebabkan perubahan warna tersebut, operasi dibutuhkan untuk membenarkan ketidaknormalan yang terjadi. Dokter bedah biasanya mengoperasi anak sebelum bayi berusia 1 tahun, idealnya saat ia berusia 6 bulan, atau bahkan lebih dini. Operasi yang sukses berarti bayi akan mendapatkan cukup oksigen dan tidak akan terlihat biru. Apabila level nitrat yang tinggi dalam air menyebabkan sindrom bayi biru, dokter akan berkonsultasi dengan pusat pengendalian racun atau toxicologist untuk membantu menemukan cara terbaik dalam merawat kondisi ini. Menghindari sumber kontaminasi nitrat, misalnya air sumur atau air keran, sangat penting untuk semua bayi yang memiliki kondisi ini. 

Sindrom bayi biru merupakan sebuah kondisi langka ketika bayi 3 bulan meminum formula yang dibuat dari air yang telah terkontaminasi nitrat dalam level tinggi. Oleh karena alasan inilah, sangat penting untuk menghindari memberikan bayi air dari sumur hingga ia berusia setidaknya 1 tahun. Obat-obatan dan pemantauan bayi bisanya dapat membantu mencegah komplikasi. Jika tidak dirawat, sindrom bayi biru dapat menyebabkan kematian.