obat

Kelompok Orang yang Perlu Mewaspadai Obat Griseofulvin

Salah satu masalah kulit yang paling sering menyerang adalah infeksi jamur. Ada banyak sekali penyakit dari kelompok ini, sebut saja panu; kadas; hingga kurap. Memang masalah kulit ini tidak termasuk membahayakan, dampaknya mungkin hanya menyerang psikologis—karena malu dan tidak percaya diri—alih-alih dampak fisik. Untungnya, sudah banyak sekali obat untuk mengatasi masalah ini, termasuk Griseofulvin.

Griseofulvin adalah nama generik dari obat yang masuk ke dalam golongan antijamur. Di Indonesia, terdapat begitu banyak merek dagang yang tersebar di pasaran. Obat ini bisa digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada kulit, rambut dan kuku jari atau kaki. Dalam mengatasi masalah seseorang, Griseofulvin bekerja dengan memberhentikan pertumbuhan jamur.

Ini tidak termasuk obat bebas. Artinya, seseorang harus memiliki resep dokter sebelum mengonsumsinya. Sebab senyawa aktif yang dikandungnya dapat memberikan efek tertentu pada sekelompok orang. Yakni Griseofulvin tidak disarankan digunakan untuk anak di bawah usia 2 tahun, karena manfaat dan keamanannya tidak diketahui. Selain itu, obat ini juga tidak boleh diberikan pada penderita gagal hati dan porfiria. 

Jika kelompok orang di atas mengonsumsi Griseofulvin, mereka terancam dengan beberapa risiko kesehatan. Penggunaan Griseofulvin dapat menimbulkan efek samping seperti gangguan fungsi hati, ruam kulit, urtikaria, dan eritema multiformis. 

Selain itu, sesorang juga bisa mengalami pusing, diare, sakit kepala, mual dan muntah, hingga insomnia. Lebih parahnya, meski jarang terjadi, seseorang juga dapat mengalami kebocoran protein ke dalam urine, penurunan jumlah sel darah putih, nyeri ulu hati, perdarahan saluran pencernaan, hingga sindrom Steven-Johnson.

Untuk itu amat penting untuk memberikan gambaran kondisi kesehatan Anda kepada dokter ketika pemeriksaan berlangsung. Selain itu, terbukalah kepada dokter Anda mengenai obat-obatan yang rutin dikonsumsi, termasuk suplemen dan obat herbal. Pasalnya, obat ini juga bisa berinteraksi dengan kelompok obat lain.

Penggunaan Griseofulvin dapat mengurangi efektivitas fenilbutazon dan obat antikoagulan. Sedangkan jika dikonsumsi bersama obat penenang akan mengurangi penyerapannya.  Efektivitas obat ini juga akan berkurang jika digunakan bersama obat daclatasvir, darunavir, gefitinib, dan nilotinib. Penggunaan Griseofulvin bersama pil KB juga akan mengurangi efektivitasnya. Selain itu, juga dapat mengakibatkan perdarahan.

Griseofulvin sebaiknya Anda konsumsi dengan mengikuti aturan pada label resep. Gunakanlah sesuai takaran dosis dan lama waktu penggunaan sesuai yang dianjurkan. Mengonsumsi Griseofulvin bentuk tablet, agar mudah ditelan, seseorang dapat menggerus tablet obat tersebut dan menaburkannya pada sesendok yoghurt. Cara minumnya langsung ditelan tanpa mengunyah. Jika masih ada sisa, jangan simpan campuran obat untuk digunakan lain kali.

Supaya gejala infeksi jamur yang diderita membaik, gunakan obat ini sampai habis. Memang obat ini membutuhkan waktu hingga beberapa minggu untuk menunjukkan khasiatnya. Malah dalam beberapa kasus infeksi tertentu, Griseofulvin  bahkan bisa baru menunjukkan hasil setelah dikonsumsi berbulan-bulan. Perlu Anda ingat bahwa Griseofulvin tidak mengobati infeksi bakteri, atau infeksi virus seperti flu.

Untuk penggunaan obat ini dalam jangka panjang, harus sering melakukan tes kesehatan di klinik dokter. Supaya obat bisa diserap lebih baik, sebaiknya konsumsi Griseofulvin bersama makanan yang mengandung lemak.

Penting juga untuk diingat bahwa seseorang harus tetap melanjutkan konsumsi obat meski kondisinya sudah berangsur membaik dalam beberapa hari. Karena penghentian konsumsi obat terlalu dini berisiko membuat jamur tumbuh kembali. Apabila kondisi Anda tidak membaik setelah mengonsumsi Griseofulvin selama jangka waktu yang ditetapkan, segera konsultasikan ke dokter. Termasuk ketika Anda mengalami reaksi alergi atau overdosis setelah mengonsumsi Griseofulvin, segeralah temui dokter.