Bayi & Menyusui

Manfaat Cup Feeder Bayi Dibandingkan Botol Susu

Belakangan, cup feeder bayi mulai dipilih oleh banyak ibu yang bekerja. Hal ini karena cup feeder memiliki banyak manfaat, salah satunya untuk mencegah bayi mengalami bingung puting. 

Selain itu, cup feeder bayi juga berguna untuk bayi yang lahir prematur dan belum bisa menyusu serta bayi yang sedang sakit, sehingga sulit menyusu langsung pada ibunya. 

Dibandingkan botol, memberikan susu melalui cup feeder juga lebih mudah, praktis, serta gampang dibersihkan. Tak heran jika dalam waktu belakangan, penggunaan cup feeder bayi cukup ngetren. 

Manfaat cup feeder bayi

Sebagai bahan pertimbangan, untuk kamu yang bingung apakah akan memberikan bayi cup feeder atau botol susu, berikut ini beberapa manfaat dari penggunaan cup feeder bayi. 

  • Cocok digunakan untuk bayi yang lahir prematur

Cup feeder biasanya sangat direkomendasikan untuk bayi yang lahir prematur yakni pada usia kandungan 29 minggu. Metode ini juga bisa membantu bayi yang memiliki berat badan lahir rendah atau memiliki masalah medis tertentu, seperti bibir sumbing.

  • Solusi untuk bayi yang tidak mau menyusu langsung

Pada beberapa kasus ditemukan bayi yang tidak bisa menyusu langsung pada ibunya. Hal ini bisa terjadi karena puting yang rata, sehingga bayi kesulitan mengisap atau karena masalah mastitis. 

Salah satu solusinya adalah dengan memberikan ASI melalui cup feeder bayi. Dengan cara ini, bayi pun tidak akan mengalami bingung puting. 

  • Mengurangi risiko pertumbuhan gigi yang tidak normal

Salah satu penyebab pertumbuhan gigi yang terganggu pada anak adalah penggunaan dot. Dengan menggunakan cup feeder bisa mencegah pertumbuhan gigi yang tidak normal pada bayi. 

Hal ini disebabkan karena cup feeder diberikan dengan cara menghisap layaknya menghisap puting susu ibu, sehingga cukup aman. 

Selain itu, penggunaan botol susu biasanya juga membuat gigi terendam susu yang bisa menyebabkan gigi bayi jadi bolong dan keropos. 

  • Bayi belajar menggunakan cangkir

Penggunaan cup feeder sejak dini juga bisa membantu bayi belajar minum dari gelas dengan cepat. Hal ini karena bentuk cup feeder memang seperti gelas kecil. Sehingga saat sudah besar, anak tidak kesulitan lagi ketika minum langsung dari gelas. 

  • Murah

Selain membantu bayi dari bingung puting, cup feeder juga memiliki harga yang relatif murah dibandingkan dengan botol susu. Selain itu, cup feeder juga lebih praktis, ringkes, dan mudah dibersihkan. 

Cara menggunakan cup feeder yang tepat agar tidak tersedak

Bentuk cup feeder yang seperti cangkir bisa meningkatkan risiko tersedak pada bayi. Apalagi jika penggunaannya tidak berhati-hati.

Untuk mencegahnya, berikut ini beberapa cara penggunaan cup feeder yang tepat pada bayi agar tidak tersedak. 

  • Letakkan bayi di pangkuan dengan memegang bagian leher serta punggung agar tidak bergeser. Pastikan posisi bayi dalam keadaan nyaman, sehingga mencegah bayi bergerak yang bisa menyebabkan bayi tersedak atau cup feeder terjatuh. 
  • Secara perlahan, dekatkan cup feeder pada mulut bayi dan minumkan ASI dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit. 
  • Apabila bayi sulit menjangkau, miringkan cup feeder sedikit hingga ASI bisa terjangkau dan bisa dihisap oleh bayi. 
  • Tuang ASI perlahan ke dalam mulutnya dan biarkan bayi menghisap ASI sesuai dengan kebutuhannya. Apabila sudah kenyang, biasanya ia akan menutup mulutnya. 

Nah, itu dia beberapa manfaat penggunaan cup feeder yang bisa jadi referensimu. Apabila penggunaan dot terlalu ribet apalagi saat mencucinya, sebaiknya gunakan cup feeder yang lebih praktis dan juga murah. 

Bayi & Menyusui

Penyebab dan Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Perut kembung atau secara medis disebut meteorismus adalah sebuah tanda adanya gangguan pada saluran cerna. Kembung tidak hanya bisa dialami oleh orang dewasa, namun juga bisa dialami oleh bayi.  Para orang tua baru umumnya kerap panik dan bingung bagaimana cara mengatasi perut kembung pada bayi. 

Sebenarnya, pada bayi dibawah 3 bulan kembung merupakan hal yang normal terjadi. Hal ini disebabkan karena belum sempurnanya sistem saluran pencernaan pada bayi. Selain itu, pada bayi diatas 6 bulan biasanya akan membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI). Biasanya bayi akan mencoba banyak sekali makanan baru yang dapat mengakibatkan perut kembung. Maka dari itu, para orang tua tentunya perlu untuk berhati-hati dalam menentukan MPASI dan juga mengetahui cara mengatasi perut kembung pada bayi.

Penyebab Perut Kembung pada Bayi

Ada banyak hal yang menjadi penyebab perut bayi kembung. Namun, perut kembung yang dialami bayi tidak selalu menjadi tanda penyakit yang serius. Berikut beberapa penyebab perut bayi kembung.

  • Banyaknya udara yang tertelan

Posisi menyusu yang tidak pas ataupun penggunaan dot yang tidak sesuai dapat menyebabkan banyaknya udara yang ikut masuk ke saluran pencernaan si Kecil. Contohnya, seperti pada saat mulut bayi sudah terbuka tetapi tidak langsung menggapai puting sang ibu dan juga aliran dot yang terlalu deras. Hal tersebut menyebabkan banyaknya udara berlebih yang ikut masuk ke saluran cerna si kecil.

  • Makanan yang dikonsumsi oleh ibu

Makanan yang dikonsumsi oleh ibu dapat menjadi pemicu perut bayi kembung. Hal ini dikarenakan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu akan terserap ASI, sehingga kembung pada bayi tidak terhindarkan. 

Maka dari itu, para ibu yang sedang menyusui perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Hindari makanan yang dapat memicu produksi gas sesudah dicerna, seperti bawang, brokoli, kentang, dan kol.

  • Tidak cocok dengan makanan atau minuman tertentu

Pada bayi usia 6 bulan keatas biasanya akan membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI). Pada masa MPASI, bayi akan mencoba banyak sekali makanan dan minuman baru yang belum pernah ia konsumsi sebelumnya dengan tekstur yang lebih padat. Hal ini dapat menyebabkan kembung karena lambung bayi masih menyesuaikan dengan makanan dan minuman baru tersebut. Terlebih lagi jika makanan tersebut mengandung lemak, gula, pati, dan tinggi serat, yang dapat meningkatkan resiko perut bayi kembung.

Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Udara ataupun gas masuk kedalam saluran cerna adalah hal yang wajar. Namun berbeda dengan orang dewasa yang saluran pencernaannya sudah matang, bayi membutuhkan bantuan untuk dapat mengeluarkan gas tersebut dari sistem pencernaannya. Berikut cara mengatasi perut kembung pada bayi:

  1. Perhatikan posisi menyusui

Untuk mengatasi perut kembung pada bayi, selalu pastikan jika posisi kepala si Kecil lebih tinggi dari badannya, baik saat menyusui secara langsung ataupun melalui dot. Dengan begitu susu akan lebih mudah masuk ke dalam perut dan udara berlebihnya akan menuju ke atas.

  1. Bantu bayi bersendawa setelah menyusu

Salah satu cara agar udara dapat keluar dari sistem pencernaan si kecil yaitu dengan gendong bayi menghadap Anda, sanggah kan kepada dan lehernya di pundak Anda, lalu menepuk punggungnya dengan lembut hingga bayi sendawa.

  1. Pijat perut bayi

Ada 2 cara pijat yang dapat dicoba yaitu pijat dengan cara mengelus searah jarum jam atau Anda bisa memijat dengan cara seolah-olah menulis huruf ILU menggunakan telapak tangan Anda. 

Anda juga dapat menggunakan minyak telon ataupun balsem bayi untuk menghangatkan perut si Kecil. 

  1. Periksa kembali makanan pendamping ASI 

Jika bayi sudah mengkonsumsi MPASI, Anda perlu meninjau kembali makanan pendamping ASI yang diberikan. Pasalnya, beberapa makanan terutama yang mengandung sorbitol (alkohol gula) dapat meningkatkan resiko bayi mengalami perut kembung.

Itulah beberapa cara mengatasi perut kembung pada bayi. Biasanya kembung akan reda dalam waktu beberapa saat. Namun, jika kembung tak kunjung reda dan menunjukan adanya tanda-tanda masalah serius pada anak, maka sebaiknya konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Bayi & Menyusui

Panduan Memberikan Obat Demam Bayi Sesuai Usia

Panduan Memberikan Obat Demam Bayi Sesuai Usia

Demam adalah tanda umum penyakit, tetapi itu tidak selalu berarti buruk. Faktanya, demam berperan sebagai kunci dalam melawan infeksi. Jadi, haruskah Anda memberikan obat demam bayi atau membiarkan demamnya mereda dengan sendirinya? Pemberian obat demam bayi dan anak boleh saja, namun dengan catatan untuk tidak memberikannya pada mereka yang tidak mengalami gangguan kekebalan atau mengonsumsi obat kemoterapi dan belum pernah menjalani operasi.

Anak kecil sering mengalami demam jika batuk atau pilek, misalnya, karena tubuh sedang melawan infeksi. Anak Anda mungkin mengalami demam jika merasa lebih panas dari biasanya saat Anda menyentuh dahi, punggung atau perutnya, merasa berkeringat atau lembap, atau pipinya memerah.

Panduan memberikan obat demam bayi dan anak yang tercantum di bawah ini adalah untuk suhu yang diukur dengan termometer rektal dan oral. Termometer ini memberikan pengukuran suhu tubuh inti yang paling akurat. Jenis termometer lain, seperti termometer telinga (membran timpani) atau dahi (arteri temporal), meskipun nyaman, namun memberikan pengukuran suhu yang kurang akurat. Lebih lengkapnya simak panduan memberikan obat demam bayi yang tepat berikut.

Bayi dan balita

0-3 bulan

Demam dengan suhu 38ºC atau lebih tinggi, diambil secara rektal. Anda harus segera menghubungi dokter, bahkan jika bayi tidak menunjukkan tanda atau gejala lain. Jangan berikan obat medis apapun.

3-6 bulan

Demam dengan suhu hingga 38,9ºC, diambil secara rektal. Anda harus mengajak si kecil untuk banyak beristirahat dan minum cairan seperti ASI atau susu formula. Obat tidak dibutuhkan untuk bayi usia tersebut. Hubungi dokter jika mereka tampak sangat sensitif, lesu, atau tidak nyaman.

3-6 bulan

Demam dengan suhu di atas 38,9ºC, diambil secara rektal. Segera hubungi dokter. Mereka mungkin akan merekomendasikan agar Anda membawa anak ke laboratorium untuk segera melakukan tes atau pengecekan lebih lanjut dan jangan berikan obat demam bayi sama sekali.

6-24 bulan

Demam dengan suhu di atas 38,9ºC, diambil secara rektal. Berikan anak asetaminofen (tylenol, lainnya). Jika anak berusia 6 bulan atau lebih, ibuprofen (advil, motrin, lainnya) juga sudah boleh diberikan. Baca label dengan hati-hati untuk mendapatkan dosis yang tepat. Jangan berikan aspirin kepada bayi atau balita. Hubungi dokter jika demam tidak merespons obat atau berlangsung lebih dari satu hari.

Anak-anak

2-17 tahun

Demam dengan suhu hingga 38,9ºC diambil secara rektal untuk anak-anak usia 2-3, dan diambil secara oral untuk anak-anak di atas 3 tahun. Anda harus mengajak anak untuk perbanyak istirahat dan minum banyak cairan. Anda tidak memerlukan obat demam bayi dalam hal ini. Namun, segera hubungi dokter jika anak tampak sensitif atau lesu atau mengeluh sangat tidak nyaman.

2-17 tahun

Demam dengan suhu di atas 39,9ºC diambil secara rektal untuk anak-anak usia 2-3, dan diambil secara oral untuk anak-anak di atas 3 tahun. Jika anak tampak tidak nyaman, berikan mereka asetaminofen (tylenol, lainnya) atau ibuprofen (advil, motrin, lainnya). Selalu baca label dengan saksama untuk mendapatkan dosis yang tepat.

Anda juga harus berhati-hati untuk tidak memberi anak Anda lebih dari satu obat yang mengandung acetaminophen, seperti beberapa obat demam  bayi yang juga diperuntukan untuk sakit batuk dan pilek. Hindari memberikan aspirin kepada anak-anak atau remaja. Hubungi dokter jika demam tidak merespons obat atau berlangsung lebih dari tiga hari.

Bayi & Menyusui

Tips Melakukan Stimulasi Bayi agar Cerdas dari Usia 0-24 Bulan

Tips Melakukan Stimulasi Bayi agar Cerdas dari Usia 0-24 Bulan

Agar bayi tumbuh cerdas dan pintar, orang tua perlu tahu cara menstimulasi anak sejak dini. Cara stimulasi bayi agar cerdas umumnya bisa dilakukan dengan stimulasi umum dan spesifik yang sesuai dengan usia bayi.

Stimulasi adalah rangsangan suara (auditori), visual, sentuhan, kinestetik yang diberikan sejak otak bayi mulai berkembang (sejak bayi baru lahir). Tujuan stimulasi adalah merangsang kualitas dan kuantitas sel-sel otak agar dapat bekerja dan berfungsi secara optimal.

Kecerdasan seseorang umumnya dapat dilihat dari hasil atau pencapaian tertentu. Hal tersebut juga berlaku pada bayi. Ciri bayi cerdas dan pintar dapat dilihat dari perkembangan dan tumbuh kembang anak sejak bayi baru lahir.

Dikutip dari Kidspot Australia, sejumlah ciri bayi pintar dan cerdas yang harus diperhatikan sejak dini adalah di antaranya seperti ini.

  1. Mencapai milestones

Mencapai milestones atau pencapaian lebih cepat dari pada bayi lainnya di usia mereka. Misalnya bayi lebih cepat berjalan atau lebih cepat berbicara dari bayi lainnya dalam standar umur perkembangan mereka.

  1. Mudah berkonsentrasi

Saat bayi telah memiliki konsentrasi dan fokus yang baik, maka bayi bisa masuk ke dalam kategori bayi pintar dan cerdas. Misalnya si Kecil bisa fokus pada mainannya atau membaca buku hingga selesai tanpa teralihkan.

  1. Mampu menyelesaikan masalah

Dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik. Ini bisa terlihat misalnya ketika Anda meletakan mainan di suatu tempat yang tak bisa dijangkaunya, kemudian ia mencari beragam cara untuk mengambilnya.

  1. Suka menyendiri

Ciri bayi pintar yang satu ini mungkin sering disalah artikan oleh para orangtua. Namun, bayi yang pintar umumnya akan lebih menikmati waktunya bermain sendiri atau ditemani orang dewasa ketimbang bermain dengan rekan seusianya. 

  1. Memiliki rasa penasaran tinggi

Rasa penasaran yang tinggi umumnya dapat terlihat pada bayi usia di atas 1 tahun, yakni saat mereka mengajukan pertanyaan yang begitu kompleks dan rinci. Mereka akan mulai menanyakan mengapa suatu kejadian bisa terjadi dan menuntut alasannya yang jelas.

  1. Memiliki berat badan lahir tinggi

Penelitian menunjukan berat badan lahir yang tinggi dapat disamakan dengan IQ yang sedikit lebih tinggi di sepanjang hidupnya.

Memberi stimulasi bukan berarti memberikan banyak mainan edukasi kepada anak Anda, atau mendaftarkannya pada banyak sekolah atau kursus. Sebaliknya, gerakan sederhana seperti menyentuh bayi dengan rasa sayang sudah bisa dikatakan sebagai bentuk stimulasi, yang menandakan bahwa ia mendapat kasih sayang dari orangtuanya.

Selebihnya, Anda dapat melakukan stimulasi bayi agar cerdas dan pintar sejak dini sesuai dengan usianya. Nah, berikut beberapa contoh cara menstimulasi otak bayi agar cerdas berdasarkan usia yang dapat Anda jadikan rujukan.

  1. Bayi berusia 0-3 bulan
  • Menyentuh bayi dengan kasih sayang
  • Memberikan bayi pijatan
  • Menggendong dan mengatun-ayunkannya
  • Menatap matanya
  • Mengajaknya bercanda
  • Membuatnya tengkurap (tummy time)
  1. Bayi berusia 3-6 bulan
  • Memanggil nama si bayi
  • Melihat cermin
  • Bermain cilukba
  • Melatih untuk berguling dan duduk
  • Memegang dan bermain dengan mainan.
  1. Bayi berusia 6-9 bulan
  • Memanggil nama bayi dan melambaikan tangan
  • Menunjuk objek
  • Bersalaman dan tepuk tangan
  • Memegang gelas dan minum dari gelas
  • Melatih duduk tegak
  • Melatih berdiri sambil berpegangan.
  1. Bayi berusia 9-12 bulan
  • Melatih kosakata bayi dengan mengajak berbicara satu suku kata, misalnya mama, papa, mimi, bobo)
  • Menggelindingkan bola
  • Corat-coret
  • Meniru mimik orangtua
  • Melatih berdiri dan berjalan.
  1. Anak usia 12-18 bulan
  • Menunjuk gambar atau objek
  • Menggabungkan kata
  • Menyusun balok dan puzzle
  • Menggunakan sendok
  • Bermain dengan boneka
  • Meniti tangga (dengan dampingan orangtua)
  • Membungkuk
  • Berjalan mundur
  • Berlari dan menendang bola
  1. Anak usia 18-24 bulan
  • Mengenalkan nama-nama bagian tubuh
  • Membacakan buku cerita
  • Bermain musim
  • Tahu nama-nama kegiatan sehari-hari
  • Bermain lilin mainan
  • Mencuci dan mengeringkan tangan
  • Membuka pakaian
  • Melempar bola
  • Melompat
  • Menggosok gigi

Bukan hanya stimulasi bayi agar cerdas dan pintar serta tumbuh dengan sehat yang harus diperhatikan. Namun, ketika masih ASI eksklusif maupun saat memasuki masa MPASI di usia 6 bulan, Anda juga perlu memastikan jenis makanan bergizi untuk bayi.

Makanan yang perlu dikonsumsi ibu untuk mendorong anak tumbuh cerdas, aktif dan sehat sejak masih bayi salah satunya seperti sayuran, kacang-kacangan, ikan, telur, alpukat, brokoli hingga buah beri.

Bayi & Menyusui

Fakta-Fakta Seputar Suhu Tubuh Normal Bayi

Bayi adalah masa di mana seorang manusia masih membutuhkan bantuan orang lain. Fisik dan psikisnya belum kuat untuk menghadapi apa-apa sendiri. Mudahnya, bayi tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Perbedaan itu juga bisa dideteksi dari suhu tubuh normal keduanya. Dibanding orang dewasa, ada fakta unik di balik suhu tubuh normal bayi, semisal:

  • Tidak tetap, berubah sesuai keadaan sekitar

Ada satu fakta unik terkait suhu tubuh normal bayi, yakni kisaran suhu tubuhnya tidak tetap alias bisa berubah-ubah. Yang menjadikan suhu tubuh normal bayi berubah-ubah adalah tergantung dari waktu pengukuran suhunya, metode pengecekannya, hingga alat yang digunakan untuk mengukur suhu tersebut.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah suhu udara. Suhu tubuh si kecil bisa jadi akan sedikit naik dalam cuaca panas. Kemudian, suhu tubuhnya bisa jadi lebih rendah saat cuaca dingin. Termasuk suhu tubuh normal bayi akan lebih tinggi saat si kecil aktif bergerak, dibandingkan saat dia beristirahat.

  • Tiap bagian tubuh merepresentasikan suhu tubuh yang berbeda

Ada beberapa area tubuh yang bisa dan umum digunakan untuk mengukur suhu tubuh normal bayi dengan termometer. Nah, tiap-tiap area tubuh tersebut ternyata punya representasi suhu tubuh yang berbeda, misalnya: 

  • Mulut: sekitar 35,8-37,5° Celsius.
  • Dubur: sekitar 36,6-38° Celsius.
  • Ketiak: sekitar 36,5-37,3° Celsius.
  • Telinga: sekitar 35,8-38° Celsius.

Fakta ini harus dipahami oleh para ibu. Jangan sampai situasi ini membuat bingung, serta panik karena mendapati hasil pengukuran suhu tubuh bayi berbeda-beda di tiap spot pengukuran.

  • Suhu tubuh normal terendah di bawah orang dewasa

Suhu tubuh normal orang dewasa berada di kisaran angka 36,1 sampai dengan 37,2 derajat Celsius. Berbeda dengan orang dewasa, suhu tubuh normal bayi bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari itu. Adapun “batas bawah” suhu tubuh bayi yang masih dapat dikatakan normal adalah 35,8 derajat Celsius. 

Suhu tersebut bisa didapatkan apabila mengukur suhu tubuh bayi dengan termometer di area mulut. Kondisi ini umum terjadi karena setelah melakukan aktivitas dan tidur, perlahan suhu bayi akan menurun mencapai titik ini. Hal ini akan terjadi pada tengah malam, sekitar pukul 02.00. Saat bangun pagi suhu tubuhnya akan naik menjadi sekitar 36,1° selsius.

  • Suhu tubuh normal tertinggi ada di atas orang dewasa

Hampir sama dengan fakta sebelumnya, intinya “batas atas” suhu tubuh normal bayi berada di atas orang dewasa. Kondisi ini terjadi karena mulai sejak bangun pagi, suhu tubuh bayi akan terus meningkat seiring aktivitas yang dilakukan sepanjang hari. Puncak suhu tubuh normal bayi tertinggi adalah pada sore hari. 

Pada saat itu, laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), suhu tubuh bayi bisa mencapai 37,5° selsius. Menghadapi kondisi ini, ibu tidak perlu khawatir dan langsung menganggap anaknya demam. Ini adalah suhu tubuh normal bayi setelah dia beraktivitas.

  • Hati-hati memilih tempat mengukur suhu

Seperti yang sudah ditulis di atas, bahwa ada beberapa area yang bisa digunakan untuk mengukur suhu tubuh normal bayi. Kendati bisa, tetapi tidak semua tempat tersebut baik untuk menentukan suhu tubuh si kecil. 

Masih menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), cara pengukuran suhu tubuh bayi yang disarankan adalah dengan termometer digital atau termometer air raksa yang diletakkan di ketiak. 

Pengukuran suhu tubuh dengan menggunakan termometer yang ditempelkan di dahi atau dimasukkan ke lubang telinga tidak dianjurkan karena tidak memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Sementara pengukuran suhu tubuh dengan memasukkan termometer ke lubang dubur juga tidak dianjurkan karena bisa melukai anus.

Itulah beberapa fakta unik terkait suhu tubuh normal bayi. Informasi di atas dapat dipahami sebagai sesuatu yang mungkin berguna bagi kamu dan keluarga di masa-masa mendatang. Di akhir, pastikan suhu tubuh bayi kamu tetap di ambang normal, ya, agar mekanisme tubuhnya selalu terjaga.

Bayi & Menyusui

Sindrom Bayi Biru Bayi 3 Bulan

Sindrom bayi biru, juga dikenal dengan sebutan methemoglobinemia bayi, merupakan sebuah kondisi di mana kulit bayi berubah menjadi biru. Kondisi ini sering terjadi pada bayi 3 bulan atau kurang, dan terjadi akibat berkurangnya jumlah hemoglobin di dalam darah bayi.

Hemoglobin adalah sebuah protein darah yang bertanggungjawab dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh dan mengantarkannya ke sel dan jaringan yang berbeda. Ketika darah tidak mampu membawah oksigen ke seluruh tubuh, bayi akan berubah menjadi biru (cyanotic). Sindrom bayi biru jarang ditemui di negara-negara berkembang. Namun, kondisi ini dapat ditemukan di negara-negara berkembang dengan kualitas pasokan air yang buruk. 

Penyebab sindrom bayi biru pada bayi 3 bulan

Penyebab utama kasus sindrom bayi biru pada bayi 3 bulan atau kurang adalah air yang terkontaminasi oleh nitrat. Setelah bayi meminum formula yang terbuat dari air kaya kandungan nitrat, tubuh akan mengubah nitrat menjadi nitrit. Nitrite tersebut akan mengikat hemoglobin di dalam tubuh, membentuk methemoglobin, yang tidak dapat membawa oksigen. Nitrat banyak ditemui di air minum di masyarakat petani yang menggunakan air sumur. Kontaminasi ini disebabkan karena penggunaan pupuk. Bayi 3 bulan atau kurang memiliki risiko paling tinggi untuk menderita sindrom bayi biru, namun kondisi ini juga dapat menyerang kelompok lain.

Orang-orang yang berisiko menderita methemoglobinemia adalah orang dewasa dengan kecenderungan genetik, menderita maag atau gastritis, dan gagal ginjal yang membutuhkan dialisis. Kondisi lain yang menyebabkan bayi tampak biru di antaranya adalah:

  • Tetralogy of fallot (TOF). TOF merupakan sebuah kondisi jantung bawaan serius yang menyebabkan ketidaknormalan struktural di jantung dan dapat mengakibatkan kurangnya oksigen di dalam darah. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi terlihat biru, meskipun biasanya terjadi pada saat dilahirkan. 
  • Ketidaknormalan jantung bawaan lainnya. Ketidaknormalan jantung bawaan yang memengaruhi jumlah oksigen di darah bayi dapat menyebabkan kulit mereka terlihat biru. 
  • Methemoglobinemia. Hal ini disebabkan karena paparan nitric oxide yang dihirup, atau obat bius dan antibiotik tertentu. 

Gejala yang paling sering ditemui dalam kasus sindrom bayi biru adalah kulit di sekitar mulut, tangan, dan kaki yang berubah warna menjadi biru. Kondisi tersebut juga dikenal dengan sebutan cyanosis dan merupakan sebuah tanda bahwa seorang anak atau seseorang tidak mendapatkan cukup oksigen. Potensi gejala lain sindrom bayi biru adalah sulit bernapas, muntah, diare, hilangnya kesadaran, dan kejang. Dalam kasus yang parah, sindrom bayi biru dapat menyebabkan kematian. 

Perawatan bervariasi tergantung apa yang menyebabkan bayi berubah menjadi biru. Apabila penyakit jantung bawaan menyebabkan perubahan warna tersebut, operasi dibutuhkan untuk membenarkan ketidaknormalan yang terjadi. Dokter bedah biasanya mengoperasi anak sebelum bayi berusia 1 tahun, idealnya saat ia berusia 6 bulan, atau bahkan lebih dini. Operasi yang sukses berarti bayi akan mendapatkan cukup oksigen dan tidak akan terlihat biru. Apabila level nitrat yang tinggi dalam air menyebabkan sindrom bayi biru, dokter akan berkonsultasi dengan pusat pengendalian racun atau toxicologist untuk membantu menemukan cara terbaik dalam merawat kondisi ini. Menghindari sumber kontaminasi nitrat, misalnya air sumur atau air keran, sangat penting untuk semua bayi yang memiliki kondisi ini. 

Sindrom bayi biru merupakan sebuah kondisi langka ketika bayi 3 bulan meminum formula yang dibuat dari air yang telah terkontaminasi nitrat dalam level tinggi. Oleh karena alasan inilah, sangat penting untuk menghindari memberikan bayi air dari sumur hingga ia berusia setidaknya 1 tahun. Obat-obatan dan pemantauan bayi bisanya dapat membantu mencegah komplikasi. Jika tidak dirawat, sindrom bayi biru dapat menyebabkan kematian.

Penyakit

Lakukan Ini untuk Atasi Hiperplasia Adrenal Kongenital

Hiperplasia adrenal kongenital adalah sekelompok kelainan genetik yang mempengaruhi kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal itu sendiri merupakan sepasang organ seukuran kenari yang berlokasi di atas ginjal.

Kelenjar adrenal berfungsi untuk menghasilkan hormon-hormon penting, seperti androgen, kortisol, dan mineralokortikoid. Saat seseorang menderita hiperplasia adrenal kongenital, tubuh mereka akan kekurangan enzim yang diperlukan untuk memproduksi hormon-hormon ini.

Apakah hiperplasia adrenal kongenital berbahaya?

Umumnya, kondisi ini bisa terjadi karena tubuh Anda mengalami kekurangan enzim yang bernama 21-hydroxylase. Rendahnya kadar enzim ini membuat Anda rentan terkena hiperplasia adrenal kongenital.

Pada anak-anak, penyakit ini bisa diderita apabila mereka memiliki kedua orang tua yang juga mengidap penyakti yang sama. Penyakit ini juga bisa diturunkan apabila kedua orang tua tidak memiliki penyakit ini, tetapi membawa mutasi genetik yang menyebabkan kondisi tersebut.

Beberapa gejala dari kondisi hiperplasia adrenal kongenital yang mungkin akan Anda rasakan berupa: 

  • Periode menstruasi yang tidak teratur
  • Masalah kesuburan, lebih sering terjadi pada wanita muda
  • Pertumbuhan bulu tubuh yang tidak diinginkan atau berlebihan
  • Perkembangan rambut kemaluan yang terlalu dini
  • Pertumbuhan jerawat yang parah

Kondisi hiperplasia adrenal kongenital menjadi berbahaya apabila telah berkembang komplikasi berupa krisis adrenal. Komplikasi ini sebenarnya cukup jarang terjadi. Namun, Anda perlu waspada karena komplikasi ini sangat serius.

Krisis adrenal terjadi pada penderita yang menjalani pengobatan dengan glukokortikosteroid. Selama penggunaan obat ini, Anda akan mendapat lebih banyak tantangan ketika mengendalikan stres dan gejala. 

Akibatnya, kapan saja hal ini bisa menyebabkan penurunan kadar tekanan darah, mengakibat syok, hingga menyebabkan kematian.

Anda bisa mengenali gejala dari krisis adrenal berupa diare, muntah-muntah, syok, dehidrasi, dan kadar gula darah rendah. Krisis adrenal harus segera diatasi dengan pengobatan sedini mungkin. 

Cara mengatasi gejala hiperplasia adrenal kongenital

Ada beberapa pilihan pengobatan yang bisa dilakukan bagi penderita kondisi ini. Langkah-langkah pengobatannya berupa: 

  • Penggunaan pil KB

Percaya atau tidak, pil KB juga bisa berkontribusi untuk mengatasi gejala dari penyakit ini. Pil KB dipercaya efektif untu mengendalikan siklus mentruasi, mengurangi jerawat, dan terkadang juga mencegah rambut rontok yang tidak normal.

Karena itu, pil KB juga dipercaya bisa mengatasi gejala hiperplasia adrenal kongenital yang menyebabkan pertumbuhan jerawat berlebih serta siklus mentruasi yang tidak teratur.

  • Obat-obatan

Selain pil KB, ada juga jenis obat-obatan lain yang bisa digunakan untuk mengobati kondisi ini. Jika pil KB kurang efektif meredakan gejala, dokter mungkin akan memberikan Anda obat lain dengan penggunaan steroid dosis rendah untuk sementara waktu.

Konsumsi obat-obatan untuk mengobati hiperplasia adrenal kongenital harus dilakukan secara berkala setiap harinya. Beberapa jenis obat yang mungkin diberikan selain steroid adalah suplemen garam, mineralokortikoid, serta kortikosteroid. 

  • Operasi rekonstruktif

Pasien bayi perempuan dalam rentang usia 6 hingga 12 bulan dapat menjalani operasi yang disebut dengan feminizing genitoplasty. Operasi ini dilakukan guna mengubah tampilan dan fungsi alat kelamin mereka. 

Setelah beranjak dewasa, prosedur operasi ini mungkin perlu diulang kembali. Akan tetapi, resikonya adalah kemungkinan merasakan nyeri atau rasa sakit ketika berhubungan seksual atau mengalami kehilangan sensasi pada klitoris. 

Sebaiknya, berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan upaya pengobatan hiperplasia adrenal kongenital yang paling tepat. Jika kondisi ini menyerang anak Anda, pertimbangkan juga bagaimana dampak jangka panjangnya untuk anak.