Hidup Sehat

Tidak Masalah Minum Susu Setelah Minum Obat, Asalkan…

Minum susu setelah minum obat tak selamanya bakal berdampak buruk bagi kesehatan, lho. Ada beberapa kemungkinan lain yang bisa terjadi, termasuk menambah efektivitas obat tersebut bekerja di dalam tubuh kita. Semua kemungkinan atau kondisi tersebut amat bergantung pada kandungan obatnya—juga kondisi kesehatan kita secara keseluruhan, meski kecil sekali persentasenya.

Obat-obatan yang aman dan bisa menimbulkan reaksi “baik” bagi tubuh jika dikonsumsi bersamaan dengan susu di antaranya adalah beragam obat dari kelompok kortikosteroid. Minum susu setelah minum obat kortikosteroid dianjurkan karena mekanisme kerja obat ini meningkatkan pembuangan kalium dan kalsium dari tubuh.

Sementara itu, seperti kita ketahui bersama, jika susu merupakan sesuatu yang kaya akan kandungan kalsium dan kalium. Dengan minum susu setelah minum obat kortikosteroid, seseorang mungkin akan terhindar dari defisiensi dua mineral itu karena langsung digantikan oleh susu.

Selain kelompok obat kortikostreoid, obat-obatan antiinflamasi non-steroid (NSAID/OAINS) juga termasuk aman dikonsumsi bersamaan dengan susu. Interaksi obat kelompok ini dengan susu justru cenderung “baik” bagi tubuh manusia. Sebab susu berfungsi mencegah efek samping berupa iritasi lambung atau nyeri perut, dan mual akibat penggunaan obat-obatan dalam kelompok ini.

Jika demikian, obat-obatan apa yang bisa memberikan efek buruk bagi tubuh manusia jika dikonsumsi bersamaan dengan susu? Berikut beberapa di antaranya:

  • Obat-obatan penambah darah

Hampir seluruh obatan-obatan penambah darah memiliki kandungan utama zat besi. Interaksi zat besi dengan berbagai cairan selain air putih, utamanya teh, kopi, susu, coklat, cola, hingga anggur dapat mengurangi jumlah serapan zat besi. Sehingga amat tidak disarankan bagi seseorang minum susu setelah minum obat penambah darah.

  • Quinolon

Quinolon juga merupakan obat golongan antibotik. Di Indonesia obat ini bisa dikenali dengan merek dagang seperti ciprofloxacin, levofloxacin, hingga norfloksasin. Minum susu setelah minum obat quinolon bisa menyebabkan mekanisme atau aktivitas obat ini menurun. Sebab interaksi kalsium di dalam susu dan kandungan quinolon akan menghasilkan bioavailabilitas.

  • Tetrasiklin

Minum susu setelah minum obat tetrasiklin tidak disarankan. Tetrasiklin sendiri adalah salah satu jenis obat antibiotik.

Kemungkinan interaksi obat yang bakal terjadi adalah susu membuat kemampuan absorbsi dari obat ini menjadi menurun. Dalam istilah awam, absorbsi kira-kira adalah penyerapan ke dalam tubuh.

Menurut sebuah penelitian yang dirilis dalam Journal of the American Academy of Dermatology, susu bisa menurunkan absorbsi tetrasiklin hingga 65 persen. Di Indonesia, obat tetrasiklin dijual dengan berbagai merek, di antaranya Super Tetra, Tetrin, Sanlin, dan sebagainya.

  • Natrium Bicarbonate

Natrium bicarbonate atau lebih dikenal dengan baking soda banyak dimanfaatkan dalam produksi obat gangguan pencernaan, utamanya maag. Tidak dibenarkan seseorang minum susu setelah minum obat yang mengandung senyawa ini.

Susu, termasuk produk turunannya, dapat meningkatkan risiko timbulnya efek samping yang dimiliki baking soda. Ini juga diyakini mempengaruhi timbulnya sindrom susu alkali atau kondisi di mana darah mengandung banyak kalsium sehingga membahayakan ginjal seseorang.

  • Mercatopurine

Interaksi obat mercatopurine dengan susu mungkin signifikan secara klinis. Sebaiknya hindari minum susu setelah minum obat ini. Perlu diketahui jika mercatopurine merupakan obata yang biasa digunakan untuk terapa pada penderita leukimia.

Kemungkinan interaksi tersebut disebabkan oleh salah satu kandungan susu, xanthine oksidase (XO). Badan Kanker British Columbia pernah menerbitkan jurnal yang menjelaskan bahwa asupan susu sapi secara bersamaan dengan obat ini dapat mengurangi ketersediaan hayati mercatourine.

Perhatikan obat apa yang Anda konsumsi sebelum memutuskan untuk minum susu setelah minum obat. Kemungkinan efek yang Anda rasakan akan sangat bergantung dengan komposisi obat tersebut. Perlu juga kiranya Anda berkonsultasi dengan dokter, apoteker, atau tenaga medis lain mengenai manufestasi berbagai kemungkinan interaksi obat dengan susu yang Anda minum.